SAMARINDA –
**Borneonews - Balikpapan**, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan penyemaian garam di atmosfer dengan tujuan mengurangi curah hujan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Langkah ini diambil untuk mendukung kelancaran proyek pembangunan yang berlangsung di kawasan tersebut. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan BMKG Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan bahwa penyemaian garam tidak dilaksanakan langsung di area yang mendung di IKN, melainkan dilakukan pada gumpalan awan yang lebih tebal di sekitar lokasi tersebut. Prosedur penyemaian ini berlangsung di berbagai area terdekat dari IKN, termasuk perairan Balikpapan dan Samboja. Pemilihan lokasi penyemaian disesuaikan dengan perkiraan kecepatan dan arah angin yang dapat memengaruhi arah pergerakan awan. Sebagai contoh, apabila terdeteksi gumpalan awan tebal di laut dekat Balikpapan atau di sekitar Samboja dan angin bertiup menuju arah barat, BMKG akan mengirimkan pesawat untuk menyemai garam ke dalam awan tersebut. Dengan melakukan hal ini, diharapkan hujan dapat segera turun langsung di lokasi penyemaian sehingga tidak mencapai IKN. Selain itu, apabila hujan tetap mengguyur IKN, intensitasnya diharapkan dapat berkurang berkat proses penyemaian garam di awan. Namun, dalam situasi di mana gumpalan awan terbentuk secara mendadak tepat di atas IKN, BMKG memilih untuk tidak melakukan penyemaian garam. Dalam kondisi tersebut, mereka menunggu dua kemungkinan: pertama, awan tersebut dapat bergerak sesuai dengan arah angin, atau kedua, hujan dapat terjadi di IKN. Saat ini, pesawat yang digunakan untuk penyemaian garam diterbangkan dari Banda APT Pranoto Samarinda, dengan kapasitas pengangkutan garam sekitar 1 ton setiap kali terbang atau setiap operasi modifikasi cuaca (*weather modification operation*). Kukuh Ribudiyanto juga menginformasikan bahwa operasi modifikasi cuaca dengan pesawat dari Balikpapan tidak lagi dilaksanakan mulai hari ini akibat berakhirnya kontrak. Operasi ini sekarang hanya dilakukan dengan pesawat yang beroperasi dari Samarinda. Kerjasama ini melibatkan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Smart Aviation. Pesawat dari Samarinda di luar jadwal melakukan operasi modifikasi cuaca antara 4 hingga 6 kali setiap hari, tergantung pada kondisi cuaca yang berlangsung. Khusus pada hari Selasa ini, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sebanyak empat kali hingga sore hari. ANTARA