JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pakar di bidang politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Bachruddin Ali Akhmad, memberikan penghargaan kepada perempuan yang memiliki keberanian untuk terjun ke arena politik. Menurutnya, kehadiran perempuan dalam dunia politik sangatlah penting meskipun masih banyak wanita yang cenderung menjauh dari kompetisi tersebut. Bachruddin menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam dunia politik bukanlah hal yang mudah. Banyak perempuan yang hanya akan berani tampil apabila mereka benar-benar siap, baik dari sisi kualitas pribadi maupun memiliki karakter yang tangguh. Ia menyatakan, "Kita perlu mengapresiasi perempuan yang siap berkompetisi dan berjuang dalam politik." Sebagai contoh, ia menyebutkan beberapa nama perempuan inspiratif yang telah sukses memimpin wilayah, antara lain Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, dan Airin Rachmi Diany. Di tingkat nasional, ada pula sosok penting seperti Sri Mulyani dan Retno Marsudi yang berasal dari kalangan teknokrat dan mampu melawan dominasi politisi pria. Lebih jauh, Bachruddin menyoroti keberanian Erna Lisa Halaby yang berencana untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Wali Kota Banjarbaru. Ia berharap semakin banyak tokoh perempuan yang dapat muncul untuk memimpin daerah, bukan hanya terfokus di Pulau Jawa, melainkan di seluruh Indonesia. Ia mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kurangnya jumlah perempuan yang bersedia berpartisipasi dalam politik. Menurutnya, dari sekian banyak potensi perempuan, sangat sedikit yang memilih jalur politik. "Bagi seorang wanita untuk terjun ke politik, itu adalah pilihan yang tidak mudah dan bisa dianggap nekat," tuturnya. Bachruddin juga menekankan pentingnya peran perempuan di tingkat daerah. Ia percaya bahwa perempuan memiliki keunggulan dalam menyelesaikan berbagai masalah yang ada. "Keberadaan perempuan sebagai kepala daerah sangat diperlukan untuk memberikan perhatian lebih kepada isu-isu yang dihadapi oleh perempuan, yang sering kali terabaikan oleh pemimpin pria. Kebijakan pemberdayaan perempuan harus terintegrasi dalam perencanaan dan penganggaran, tanpa terikat pada apakah pemimpin itu laki-laki atau perempuan," pungkasnya. ANTARA