JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pemerintah Korea Selatan telah memberikan persetujuan terhadap usulan dari Indonesia mengenai penyesuaian pembiayaan proyek pesawat tempur kolaboratif KFX/IFX. Perubahan yang disepakati adalah pengurangan anggaran dari komitmen awal sebesar 1,6 triliun won, yang setara dengan sekitar Rp18,5 triliun, menjadi 600 miliar won, atau sekitar Rp6,95 triliun. Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha, Kepala Biro Hubungan Masyarakat di Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia, menjelaskan bahwa pihak otoritas pertahanan Korea Selatan yang bertanggung jawab atas kerjasama dan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) telah menyetujui proposal yang diajukan oleh Indonesia. Lebih lanjut, Edwin menambahkan bahwa saat ini Pemerintah Indonesia sedang melakukan negosiasi terkait kerjasama dalam alih teknologi proyek pengembangan pesawat tempur tersebut setelah adanya perubahan dalam pembiayaan. Dalam konteks alih teknologi (*transfer of technology*), Indonesia berencana untuk memperoleh beberapa kemampuan teknis yang fundamental dari kolaborasi ini. Ini termasuk keahlian dalam desain, konstruksi pesawat tempur, pembuatan komponen seperti sayap, ekor, serta bagian belakang pesawat. Selain itu, proyek ini juga mencakup kegiatan perakitan akhir (*final assembly*), uji terbang, serta sertifikasi ulang untuk pesawat IFX. Edwin juga menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia berupaya untuk meningkatkan kapasitas dalam operasi dan pemeliharaan pesawat, yang meliputi dukungan logistik terintegrasi (*integrated logistics support*), perawatan pesawat KFX/IFX, serta pengembangan sistem pelatihan bagi pilot dan teknisi. Kemampuan untuk mengatasi masalah teknis saat operasi, yang dikenal dengan istilah *troubleshooting*, juga menjadi fokus utama dalam kerjasama ini. Lebih jauh lagi, kemampuan modifikasi dan peningkatan (*upgrading*) juga menjadi bagian dari alih teknologi yang diharapkan dapat diterima oleh Indonesia. Ini mencakup desain integrasi dan sertifikasi ulang untuk memenuhi persyaratan khusus, seperti penggunaan *drag chute*, tangki bahan bakar eksternal, serta sistem pengisian bahan bakar udara (*air-refueling*). Selain itu, integrasi dengan sistem persenjataan baru, avionik, sensor, dan perangkat elektronik lainnya juga diharapkan menjadi bagian dari kerja sama ini. Sebuah laporan dari media Korea Selatan, Yonhap, pada 16 Agustus lalu menyebutkan bahwa Komite Promosi Proyek Pertahanan, yang menangani proyek kerjasama alutsista di Korea Selatan, juga telah menyetujui penyesuaian terkait pembayaran proyek pengembangan pesawat tempur KFX/IFX. Dalam kesepakatan baru ini, Indonesia tidak akan lagi menanggung porsi pembayaran tertentu, yang kini akan ditanggung oleh Pemerintah Korea Selatan dan Korea Aerospace Industries (KAI), mitra Indonesia dalam pengembangan pesawat tempur generasi ke-4,5, KF-21 Boramae. Kerja sama untuk pembuatan jet tempur KF-21 Boramae dimulai pada tahun 2015, dan diharapkan dapat mencapai penyelesaian pada tahun 2026. ANTARA