JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Departemen Regional Bank Indonesia, M. Firdauz Muttaqin, menginformasikan bahwa ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mengalami pertumbuhan yang signifikan pada triwulan II-2024. Pertumbuhan tersebut tercatat naik sebesar 6,84 persen secara tahunan atau *year on year* (yoy). Firdauz menyampaikan, "Perekonomian Bali Nusra menunjukkan peningkatan hingga 6,84 persen (yoy), angka ini lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I yang lalu yang hanya mencapai 5,11 persen (yoy)." Ia menyampaikan informasi tersebut dalam acara Capacity Building: Perkembangan Perekonomian Daerah Terkini yang berlangsung di Jakarta. Menariknya, perekonomian wilayah Bali dan Nusa Tenggara ini juga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,05 persen (yoy) pada periode yang sama. Dari sisi permintaan, faktor pendorong utama bagi pertumbuhan ini adalah kinerja ekspor, yang didorong oleh tingginya permintaan untuk konsentrat tembaga serta kedatangan wisatawan mancanegara. Di samping itu, sektor investasi pun menunjukkan perkembangan positif, khususnya dalam investasi non-bangunan. Analisis lebih mendalam mengenai sektor-sektor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa sektor pertambangan memberikan andil yang signifikan, seiring dengan peningkatan produksi konsentrat kering tembaga. Selain itu, sektor akomodasi, makanan, dan minuman mengalami perbaikan kinerja yang sejalan dengan kuatnya kunjungan wisatawan. Pertanian juga menunjukkan perkembangan yang baik, berkat masuknya masa panen raya tanaman bahan makanan, hortikultura, dan perikanan. Sementara itu, di wilayah Kalimantan, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,22 persen (yoy), mengalami penurunan dibandingkan triwulan I-2024 yang mencapai 6,17 persen (yoy). Perlambatan ini dipicu oleh penurunan ekspor batu bara, yang dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan India, serta juga penurunan ekspor minyak kelapa sawit atau *Crude Palm Oil* (CPO) ke India. Dari aspek lapangan usaha, penurunan pertumbuhan terutama disebabkan oleh melambatnya kinerja sektor pertambangan, khususnya batu bara, serta perlambatan dalam sektor industri pengolahan, termasuk produksi CPO. Namun, di tengah kondisi tersebut, sektor konstruksi menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini tercermin dari peningkatan pengadaan semen dan percepatan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kalimantan, terutama beberapa proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN), yang ditargetkan akan berfungsi sebelum upacara pada 17 Agustus 2024. Di sisi lain, perekonomian di Sulawesi, Ambon, dan Papua (Sulampua) pada triwulan II-2024 mengalami pertumbuhan sebesar 6,74 persen (yoy), meskipun melambat dari triwulan I yang tercatat sebesar 7,97 persen (yoy). Perlambatan ini disebabkan oleh penurunan di seluruh komponen konsumsi, termasuk konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan net ekspor. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain terbatasnya permintaan masyarakat, berakhirnya masa penyaluran bantuan sosial, serta normalisasi belanja pemerintah pascapemilihan presiden. Selain itu, kendala dalam proses rekomendasi izin ekspor konsentrat tembaga juga turut berkontribusi terhadap kondisi ini. ANTARA