JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) menegaskan pentingnya penguatan tiga pilar utama yang berkaitan dengan kecerdasan artifisial (*artificial intelligence/AI*) guna mendorong pertumbuhan serta mempercepat perkembangan ekonomi digital di Indonesia. Dalam penyampaian tersebut, peneliti ELSAM, Nurul Ismi, menjelaskan bahwa tiga pilar yang dimaksud adalah AI *economics*, AI *people*, dan AI *societal impact*. Menurutnya, efektivitas tiga pilar ini sangat tergantung pada kesiapan pilar-pilar pendukung yang sejalan dengan berbagai dokumen perencanaan baik jangka menengah maupun jangka panjang. Kedua, Nurul menguraikan secara mendalam upaya yang diperlukan untuk memperkuat masing-masing pilar tersebut. Untuk pilar AI *economics*, ELSAM mencatat bahwa Indonesia memerlukan tata kelola yang jelas terkait klasifikasi dan metode penyimpanan data, mencakup data privat dan publik. Hal ini bertujuan untuk menciptakan sebuah ekosistem yang lebih baik bagi pengembangan teknologi AI. Lebih rinci, penguatan ini dapat diimplementasikan melalui pengaturan sistem komputasi awan atau *cloud* secara nasional. Saat ini, sistem ini sudah mulai banyak diterapkan oleh industri sebagai lokasi untuk pusat data. Selanjutnya, perhatian juga harus diberikan kepada pilar kedua, yaitu AI *people*. Pilar ini berperan sangat penting karena keberadaan talenta digital yang mumpuni menjadi kunci dalam menghasilkan inovasi serta solusi baru dari teknologi AI yang bermanfaat untuk masyarakat. Upaya untuk meningkatkan kualitas pilar ini bisa dilakukan dengan memperbanyak program pelatihan dan pengembangan keterampilan digital bagi masyarakat. Fokusnya adalah pada pemanfaatan data serta pemahaman tentang keamanan siber dalam rangka mendukung ketahanan nasional. Pilar ketiga yang perlu diperkuat adalah AI *societal impact*, yang berfokus pada memastikan bahwa AI dapat berkontribusi pada berbagai aspek kehidupan, termasuk sosial, budaya, dan politik. Dalam konteks ini, pengembangan AI dapat diarahkan untuk memerangi praktik korupsi dalam pelayanan publik, serta mendukung sektor agrikultur dan ketahanan pangan. Selain itu, penting untuk mendorong pengembangan energi terbarukan dan dekarbonisasi guna menciptakan lingkungan yang lebih baik, serta memastikan bahwa teknologi AI dikembangkan dengan memperhatikan keamanan digital bagi anak-anak dan remaja. Dengan penguatan ketiga pilar ini, diharapkan Indonesia dapat meraih pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan dan signifikan, sejalan dengan rencana jangka panjang untuk mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045. Nurul Ismi menekankan, “AI harus mendukung visi strategis Indonesia Emas 2045, baik dari sudut pandang jangka panjang, menengah, serta visi misi pemerintah periode 2024–2029.” Dalam acara yang sama, Microsoft, sebagai salah satu perusahaan teknologi global yang berinvestasi dalam pengembangan AI di Indonesia, menyatakan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor ini. Menurut laporan berjudul "World Trend Index 2024" yang disusun oleh Microsoft, Indonesia menunjukkan kesiapan yang cukup baik dalam menyambut era kecerdasan artifisial. Hasil survei yang melibatkan 31.000 responden dari 31 negara menunjukkan bahwa 92 persen pegawai di Indonesia sudah familiar dengan teknologi *generative AI*. Selain itu, 92 persen para pemimpin perusahaan di Indonesia merasa optimis dalam mengembangkan usaha mereka mengikuti perkembangan AI. Lebih lanjut, 90 persen dari pemimpin tersebut meyakini bahwa para karyawan harus memahami pemanfaatan AI, mengingat bahwa beberapa pekerjaan akan mengalami transisi dari metode manual ke otomatisasi, sehingga menciptakan berbagai potensi baru. Proses ini pun harus selaras dan terencana dengan baik. Ajar Edi, Director of Government Affairs Microsoft Indonesia dan Brunei Darussalam, menjelaskan berdasarkan data tersebut, tidak mengherankan jika Indonesia dapat mencapai pertumbuhan signifikan dalam penerapan AI untuk memperkuat ekonomi digital. Ia menyatakan, "Indonesia memiliki potensi yang besar, investasi yang masuk sangat signifikan, termasuk komitmen Microsoft. Ketika angka-angka menunjukkan bahwa potensi di Indonesia sangat besar dan pemerintah menunjukkan stabilitas pertumbuhan, kami melihat potensi luar biasa untuk ekonomi AI di negara ini." ANTARA