MAKASSAR –
**Borneonews - Pangkajene Kepulauan**, Yayasan Roman Celebes (YRC) Indonesia telah menjalin kerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk mendukung upaya konservasi dalam sektor perikanan. Salah satu fokus dari kolaborasi ini adalah pengembangan spesies teripang yang terdapat di Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Dalam kesempatan ini, Direktur Eksekutif YRC Indonesia, Awaluddin, menyampaikan kepada publik bahwa visi dari organisasi ini adalah untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam. Selama dua tahun terakhir, mereka telah melakukan survei mendalam terhadap spesies teripang di Sapuka serta melaksanakan berbagai program pendampingan untuk masyarakat lokal. Program-program tersebut bertujuan untuk memberikan manfaat langsung kepada penduduk setempat melalui praktik-praktik yang baik dalam pengelolaan sumber daya. Awaluddin juga mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah workshop yang membahas perikanan berskala kecil secara berkelanjutan. Workshop ini diselenggarakan untuk meningkatkan efektivitas kawasan konservasi di Sulawesi Selatan. Ia menekankan pentingnya penerapan tata kelola yang berkelanjutan, tidak hanya dalam sektor perikanan secara keseluruhan, tetapi juga dalam penanganan teripang yang selama ini mengalami over eksploitasi. Sejak tahun 2021, YRC Indonesia menjalankan program yang bernama *Konsepsi Tangaya Project*. Program ini bertujuan untuk menyelaraskan pola pemanfaatan, konservasi, dan perdagangan teripang di Pulau Sapuka. Proyek ini didukung oleh Perkumpulan Burung Indonesia melalui program *Critical Ecosystem Partnership Fund* (CEPF). Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tahun 2024 ditetapkan kawasan konservasi daerah (KKD) di Sulawesi Selatan. Luas total kawasan tersebut mencapai 578.435,53 hektare, mencakup beberapa kawasan, seperti KKD Liukang Tupabbiring, KKD Liukang Tangaya, dan lainnya. Awaluddin menjelaskan bahwa tujuan dari *Konsepsi Tangaya Project* adalah untuk memperkuat tata kelola perikanan skala kecil, khususnya komoditas teripang, di Pulau Sapuka. Proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian keragaman hayati di koridor laut Pangkajene Kepulauan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkep, Amril, memberikan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan oleh YRC Indonesia dalam menjaga perlindungan dan pelestarian teripang. Namun, dia juga mengakui adanya keterbatasan dalam implementasi konservasi, karena banyaknya regulasi yang harus dipatuhi serta minimnya program yang ada di tingkat kabupaten, yang biasanya diatur di tingkat provinsi. Amril menambahkan bahwa ada potensi lain yang dapat dimanfaatkan, seperti penggunaan dana desa. Anggaran ini bisa dialokasikan untuk mendukung konservasi dan pemberdayaan nelayan kecil, mengingat kontribusi nelayan kecil terhadap sektor perikanan sangat besar, mencapai 40 persen. Sementara itu, Abdul Muas Mubarak, Kepala Bidang Pesisir Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, menjelaskan bahwa dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) untuk periode 2025-2045, terdapat lima poin utama yang telah disusun, di mana dua poin di antaranya terkait dengan perluasan konservasi perikanan. Dalam konteks penangkapan ikan ilegal yang merusak lingkungan, AKBP Soma Miharja dari Subdirektorat Penegakan Hukum Polairud Polda Sulsel melaporkan bahwa hingga Agustus 2024, terdapat 13 kasus penangkapan ikan menggunakan bahan peledak yang telah teridentifikasi. Penegakan hukum terhadap praktik ini memang menunjukkan bahwa Kota Makassar, Kabupaten Bone, dan beberapa daerah lain di Sulawesi Selatan terlibat dalam aksi-aksi tersebut, yang menunjukkan bahwa masalah ini masih sangat serius. Workshop ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai lembaga, termasuk DPD Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) Sulsel, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, serta berbagai universitas yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan di bidang kelautan. Melalui kolaborasi dan inisiatif ini, diharapkan upaya perlindungan dan pengelolaan perikanan dapat semakin diperkuat demi kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan sumber daya laut di wilayah tersebut. ANTARA