BANJARMASIN –
**Borneonews - Banjarbaru**, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (FKIK ULM) telah mencetak total 2.254 dokter. Para dokter ini berperan penting dalam memenuhi kebutuhan dan merataannya tenaga medis di berbagai wilayah di Kalimantan. Dekan FKIK ULM, Prof. Dr. Dr. Syamsul Arifin, M.Pd., FISPH, FISCM, menjelaskan bahwa lulusan ULM telah tersebar di seluruh pelosok Kalimantan Selatan dan juga di provinsi lain seantero pulau Kalimantan. Pencapaian ini sangat berarti dalam memenuhi kekurangan tenaga medis di berbagai daerah. Selain menghasilkan dokter umum, ULM juga berkontribusi dalam mencetak dokter spesialis. Hingga kini, telah ada 17 dokter spesialis penyakit dalam, delapan spesialis kesehatan anak, 12 spesialis ilmu bedah, 16 spesialis obsgin, sembilan spesialis anestesi, dan 16 spesialis pulmonologi. Baru-baru ini, dalam acara pemberian Brevet Dokter Spesialis dan Pengambilan Sumpah Dokter ke-91, ULM telah meresmikan 12 dokter spesialis dan mengangkat sumpah 14 dokter baru. Dalam acara tersebut, Syamsul juga menyampaikan pesan kepada para dokter yang baru saja dilantik agar tetap berkomitmen untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuan di bidang masing-masing. Ia menekankan pentingnya profesionalisme, rasa kemanusiaan, serta etika dalam menjalankan tugas sebagai tenaga medis. Menurutnya, peningkatan kompetisi dan pembaruan ilmu pengetahuan harus selalu diutamakan. Syamsul juga berharap ULM dapat menjadi mitra pemerintah dalam menangani masalah ketimpangan distribusi dokter spesialis di tanah air. Ia menjelaskan kontribusi FKIK ULM dalam pemenuhan jumlah dokter spesialis melalui pembukaan beberapa program studi pendidikan dokter spesialis. Saat ini, ULM telah menawarkan tujuh program studi, yaitu PPDS Anak, PPDS Obstetri-Ginekologi, PPDS Penyakit Dalam, PPDS Bedah, PPDS Paru, PPDS Anestesi, dan yang terbaru adalah PPDS Orthopedi. Di samping itu, mereka juga sedang mengembangkan program PPDS Neurologi. Pembukaan program-program studi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan spesialis, melainkan juga untuk mengatasi masalah *maldistribution* tenaga medis. Ia menekankan bahwa salah satu kewajiban mahasiswa adalah untuk kembali mengabdi di daerah-daerah yang telah mereka pilih saat proses pendaftaran. Hal ini diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di seluruh pelosok Indonesia. ANTARA