JAKARTA –
**Borneonews - Ramallah, Palestina**, Pemerintah Palestina kini tengah merumuskan sebuah rencana komprehensif untuk melakukan rekonstruksi di Jalur Gaza, yang mengalami kerusakan parah akibat konflik yang berkepanjangan. Pernyataan ini disampaikan oleh Perdana Menteri Mohammad Mustafa dalam sebuah konferensi pada hari Selasa. Menurut informasi dari kantor Perdana Menteri, telah dicapai kemajuan yang berarti dalam menyiapkan kerangka kerja untuk rencana rekonstruksi baik di Gaza maupun di Tepi Barat. Selain itu, pemerintah juga tengah meluncurkan sebuah program pembangunan yang berskala besar, yang dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga internasional, seperti Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa. Mustafa menegaskan pentingnya peningkatan signifikan dalam operasi bantuan darurat dan langkah-langkah pemulihan awal. Beberapa poin yang menjadi fokus dari pekerjaan ini mencakup pemulihan layanan vital. Layanan-layanan ini meliputi penyediaan air bersih, layanan kesehatan, pasokan listrik, sanitasi, pendidikan, dan pembersihan puing-puing. Selain itu, juga akan disediakan tempat penampungan sementara serta upaya untuk mendukung mata pencaharian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Perdana Menteri Palestina tersebut juga menyerukan agar adanya tekanan internasional untuk menghentikan tindakan agresif Israel terhadap rakyat Palestina. Ia menekankan perlunya dukungan untuk respons darurat, yang bertujuan untuk menyediakan layanan esensial, membangun kembali infrastruktur yang hancur di Gaza, dan mencapai stabilitas. Semua upaya ini penting untuk memastikan kehidupan yang bermartabat bagi seluruh rakyat Palestina. Sementara itu, serangan militer Israel di Jalur Gaza masih berlanjut setelah insiden yang melibatkan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023. Hal ini terjadi meskipun adanya resolusi dari Dewan Keamanan PBB yang menyerukan agar gencatan senjata segera dilaksanakan. Kondisi ini telah menyebabkan lebih dari 40.170 warga Palestina, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tewas, dan lebih dari 92.740 lainnya mengalami cedera, sesuai dengan laporan dari otoritas kesehatan lokal. Blokade yang terus berlangsung di Gaza juga mengakibatkan krisis parah dalam hal ketersediaan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Situasi ini telah meninggalkan sebagian besar wilayah dalam keadaan hancur. Israel kini dihadapkan pada tuduhan genosida di hadapan Pengadilan Internasional, yang telah memerintahkan penghentian operasi militer di kota Rafah, di mana lebih dari satu juta warga Palestina telah mencari perlindungan sebelum daerah tersebut diserang pada tanggal 6 Mei. ANTARA