JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Penasihat Presiden Palestina untuk Urusan Luar Negeri, Riyad Al-Maliki, mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara sengaja menyerukan perang regional dengan tujuan untuk menghilangkan keberadaan demografis Palestina. Al-Maliki menyatakan, satu-satunya cara bagi Netanyahu untuk mengubah kondisi demografi Palestina adalah dengan memicu konflik secara luas. "Ini bukan hanya tentang perang terbatas di Gaza, tetapi sebuah konflik yang dapat meluas jauh melampaui Gaza. Ini adalah satu-satunya metode yang efektif untuk merubah peta wilayah saat ini," ungkapnya dalam sebuah diskusi yang berjudul *Palestine's Never-Ending Struggle for Statehood, Human Rights, and Justice* yang dilaksanakan di Jakarta. Lebih lanjut, Al-Maliki menjelaskan bahwa jika peta wilayah dapat digambar ulang, maka ada kemungkinan besar untuk menyingkirkan warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ia menyatakan bahwa upaya itu juga berkaitan dengan usaha Netanyahu untuk menarik Amerika Serikat ke dalam konflik yang lebih besar. "Kepentingan Netanyahu adalah memperluas pertempuran ini tidak hanya di Gaza, tetapi juga menjangkau Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Irak, Iran, Yaman, dan tempat lain di sekitarnya," tambahnya. Menurut Al-Maliki, Netanyahu berkeyakinan bahwa dengan memanfaatkan perluasan konflik tersebut, dukungan dari Amerika Serikat akan diperoleh untuk membelanya. "Keyakinan ini muncul karena ia percaya bahwa satu-satunya cara untuk menghapus keberadaan dan kehadiran fisik Palestina, terutama di Tepi Barat, adalah dengan melakukan ekspansi perang," katanya. Ia juga menekankan bahwa Israel tampaknya ingin menjadikan Gaza sebagai wilayah yang tidak layak untuk dihuni. Meskipun masih ada penduduk di daerah tersebut, kondisi hidup yang sangat sulit diprediksi akan menghancurkan kemampuan mereka untuk bertahan hidup. "Motivasi ini tidak hanya berkisar pada pembunuhan dan penghancuran infrastruktur seperti sekolah, rumah sakit, jalan, gereja, dan masjid; tetapi juga bertujuan menciptakan situasi yang membuat penduduk Gaza tidak mungkin untuk bertahan," ujarnya. Dalam beberapa minggu terakhir, lebih dari 40.000 orang, mayoritas merupakan anak-anak dan perempuan, dilaporkan telah kehilangan nyawa akibat serangan yang dilancarkan oleh Israel, yang hingga saat ini masih berlanjut di Jalur Gaza. Diskusi tentang isu Palestina ini diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Palestina di Sekretariat FPCI di Jakarta. Acara yang digelar secara hybrid ini dihadiri oleh beberapa duta besar dari negara-negara asing, termasuk Duta Besar Palestina, Zuhair Al-Shun, Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, Duta Besar Sudan, Yassir Mohamed Ali, Duta Besar Maroko, Ouadia Benabdellah, serta Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad. ANTARA