JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Asosiasi Pemasok Energi Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menyampaikan harapan agar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Investasi, dapat memanfaatkan potensi dalam negeri secara optimal. Hal ini dianggap krusial, terutama dalam mempercepat investasi dan pengembangan teknologi di sektor hulu *minyak dan gas* (migas). Investasi dan penerapan teknologi di sektor hulu migas sangat berkontribusi untuk mencapai target lifting *minyak* dan *gas bumi* yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 serta Rancangan APBN 2025. Wakil Ketua Umum Aspebindo, Fathul Nugroho, menyatakan bahwa Bahlil memiliki pemahaman yang baik mengenai hal ini, berkat pengalamannya sebelumnya di posisi Menteri Investasi. Pada 19 Agustus 2024, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri ESDM yang baru, menggantikan Arifin Tasrif. Dalam serah terima jabatan tersebut, Bahlil berkomitmen untuk fokus pada peningkatan lifting minyak dan gas bumi dalam sisa masa kerja yang kini tersisa hingga Oktober 2024. Peningkatan lifting minyak dan gas bumi ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Jokowi dan juga Presiden terpilih Prabowo Subianto. Data dari RUU APBN 2025 yang disampaikan dalam sidang paripurna DPR pada 16 Agustus 2024 menunjukkan bahwa target lifting minyak ditetapkan mencapai 600 ribu barel per hari, sementara untuk gas bumi mencapai 1,005 juta barel setara minyak per hari di tahun berikutnya. Dalam APBN 2024, pemerintah menargetkan lifting migas sebesar 635 ribu barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 1,33 juta barel setara minyak per hari. Menurut Fathul, Bahlil memiliki potensi untuk meningkatkan lifting minyak dan gas bumi melalui penyesuaian regulasi serta percepatan investasi di sektor hulu, yang diharapkan dapat meningkatkan produksi *minyak mentah* dalam negeri. Fathul juga menggarisbawahi bahwa Bahlil, dengan pengalaman sebagai pengusaha dan dalam pemerintahan, akan lebih mudah dalam menjalankan misi ini. Kepekaan Bahlil yang tinggi terhadap kondisi lapangan diharapkan dapat mendorong inovasi teknis yang diperlukan. Ia menyebutkan, Indonesia dapat mencontoh negara lain dengan demografi yang mirip, seperti Brasil, yang berhasil mencapai lifting minyak hingga tiga juta barel per hari. Selain fokus pada sektor migas, Fathul juga mendorong agar Bahlil dapat mengintensifkan hilirisasi di sektor mineral dan batu bara. Kunjungan Bahlil ke Presiden terpilih Prabowo Subianto, menurutnya, menunjukkan adanya kepercayaan diri bahwa program hilirisasi akan semakin maju. Di sisi lain, Kementerian ESDM bekerja sama dengan PT PLN menghadapi tantangan dalam pengelolaan kelebihan pasokan listrik akibat program 35 ribu megawatt (MW). Fathul menilai, kelebihan pasokan ini seharusnya dilihat bukan sebagai beban, melainkan sebagai peluang yang sangat berharga untuk mendukung kebijakan hilirisasi. Fathul yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Institute for Policy, Energy, and Economics (Inspec) menekankan bahwa kebijakan tarif preferensial dan harga dinamis bagi pengguna industri di kawasan *Kawasan Ekonomi Khusus* (KEK) dapat membantu menciptakan efisiensi harga listrik untuk menarik investasi lebih lanjut. ANTARA