BANDUNG –
**Borneonews - Bandung**, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengungkapkan kesiapan mereka untuk menghadapi potensi ancaman *monkeypox* atau lebih dikenal dengan nama cacar monyet, mengingat sejumlah kasus yang mengemuka di berbagai wilayah. Kepala Dinkes Jabar, Vini Adiani Dewi, menyampaikan bahwa kondisi di daerahnya saat ini masih dalam keadaan aman dari ancaman penyakit tersebut. Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai kasus baru di tingkat kota maupun kabupaten, kecuali untuk kasus-kasus yang terkonfirmasi pada tahun 2023. "Berdasarkan kebijakan dari WHO, kita harus tetap *concern* terhadap situasi ini. Kami siap untuk mengantisipasinya. Alhamdulillah, berdasarkan pemantauan kami terhadap kabupaten/kota, sejak Mei 2023 sampai saat ini, jumlah kasus masih 13 yang sebelumnya dilaporkan, dan semua pasien tersebut telah sembuh," ujar Vini di Gedung DPRD Jabar, pada Rabu lalu. Mengenai distribusi vaksin cacar monyet yang akan dipromosikan oleh Kementerian Kesehatan, Vini menjelaskan bahwa dosis vaksin akan diperuntukkan bagi individu yang dianggap berisiko tinggi untuk terpapar, terutama mereka yang terlibat dalam hubungan seksual sesama jenis. Sementara itu, kelompok lain yang tidak termasuk dalam kategori tersebut belum diwajibkan untuk menerima vaksinasi, dengan alasan bahwa risiko penularan yang mereka hadapi relatif rendah. "Kasus *monkeypox* banyak ditemukan di kalangan individu yang memiliki perilaku seksual tidak sehat. Oleh karena itu, vaksin ini akan diberikan kepada mereka yang terlibat dalam perilaku tersebut. Kementerian Kesehatan sejauh ini belum menyatakan bahwa vaksin ini bersifat wajib. Pendistribusiannya hanya akan diarahkan kepada mereka yang memiliki orientasi seksual menyimpang," tegasnya. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan menginformasikan bahwa hingga Sabtu, 17 Agustus, jumlah kasus cacar monyet di Indonesia telah mencapai angka 88, yang tersebar mulai dari Jakarta hingga Kepulauan Riau. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes merilis data sebaran kasus, di mana Jakarta mencatat 59 kasus, diikuti Jawa Barat 13 kasus, Banten 9 kasus, Jawa Timur 3 kasus, serta Yogyakarta dan Kepulauan Riau masing-masing 1 kasus. Dari keseluruhan kasus yang terdapat, sebanyak 87 di antaranya telah pulih. Puncak dari kasus cacar monyet yang terkonfirmasi diperkirakan terjadi pada Oktober 2023. Meskipun varian yang beredar tidak menunjukkan tingkat fatalitas yang tinggi, namun penyebarannya sangat cepat dan ini menjadi aspek yang perlu diwaspadai oleh masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengeluarkan pernyataan terkait peningkatan kasus cacar monyet secara global. WHO menyebutkan bahwa kondisi ini merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian internasional dan harus disikapi dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. ANTARA