JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Restu Gunawan, mengungkapkan bahwa manajemen talenta di sektor budaya telah melalui proses kurasi yang sangat ketat. Dalam sebuah diskusi yang berlangsung secara daring, Restu menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memfasilitasi para seniman dengan kesempatan residensi dan keterlibatan dalam berbagai *event* internasional. Ia menegaskan bahwa mereka yang terpilih untuk mengikuti program tersebut didasarkan pada undangan dari festival berkelas dunia, sehingga memastikan kualitas representasi budaya Indonesia di panggung internasional. “Para peserta yang kami kirim benar-benar telah terkurasi dengan baik,” ucapnya. Lebih lanjut, Restu menjelaskan bahwa pengembangan manajemen talenta di bidang seni budaya berfokus pada lima disiplin utama, yaitu sastra, film, musik, pertunjukan, dan seni rupa. Tujuan dari program ini adalah untuk membangun kapasitas talenta budaya Indonesia yang dapat bersaing di tingkat global. "Kita harus memastikan bahwa semua yang berpartisipasi bukan hanya sekadar ingin hadir, namun mereka telah memenuhi kriteria kurasi yang kami lakukan,” tambahnya. Ia juga menyoroti peran pemerintah sebagai fasilitator yang terus membangun jejaring dengan berbagai pihak. Salah satu contohnya adalah kerjasama dengan Korea, melalui Vogo Group dan Korea International Cooperation Agency (Koica). “Kemitraan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu seniman dan budayawan Indonesia, termasuk program pelatihan di enam kota,” ujarnya. Namun, Restu mengakui bahwa masih terdapat berbagai tantangan dalam pengembangan manajemen talenta. Salah satunya adalah kurangnya keberlanjutan dalam penampilan karya atau etalase budaya yang seringkali berumur pendek, sehingga mudah terlupakan oleh masyarakat. Ia menekankan bahwa seringkali investasi yang dikeluarkan untuk sebuah acara sangat besar tetapi hasilnya hanya dapat dinikmati sekali saja. “Contohnya, acara 'Indonesia Bertutur' yang diadakan di Bali hanya ditampilkan sekali. Hal ini membuat kami kesulitan untuk menjangkau penonton di berbagai kota, hasilnya orang mudah lupa,” kata Restu. Ia berharap agar karya-karya yang dihasilkan oleh para seniman dan pelaku budaya yang berkualitas dapat lebih banyak ditampilkan di berbagai tempat. Dengan demikian, diharapkan dapat membangun imajinasi dan memori masyarakat terhadap seni dan budaya yang ditampilkan. ANTARA