BANDUNG –
**Borneonews - Cianjur**, Pemerintah Kabupaten Cianjur, yang terletak di Jawa Barat, telah menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Expo Kursus dan Pelatihan. Acara ini menghadirkan 36 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang berfungsi sebagai platform untuk memperkuat keterampilan generasi muda. Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung upaya mewujudkan tujuan Indonesia Emas 2045. Kepala Bidang Pendidikan Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Cianjur, Jajang Sutisna, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai respons terhadap dinamika dunia kerja saat ini. Dalam konteks ini, dunia kerja tidak hanya mempertimbangkan aspek akademis, tetapi juga kemampuan dan keterampilan yang dimiliki calon tenaga kerja. Jajang mengungkapkan bahwa keberadaan LKP sangat penting untuk membangun generasi yang terampil di berbagai bidang. Saat ini, dari total 80 LKP yang ada di Cianjur, hanya 36 LKP yang berpartisipasi dalam pameran ini. Dia berharap, LKP dapat menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam mendapatkan pendidikan dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Dari perspektif industri, dunia usaha kini semakin mengutamakan aspek keterampilan daripada nilai akademis di dalam proses perekrutan. Jajang menegaskan, keterampilan yang mumpuni akan meningkatkan daya saing para pencari kerja. Sementara itu, Direktur Kursus dan Pelatihan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nahdiana, menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi Indonesia yang berkualitas menjelang tahun 2045. Menurutnya, Indonesia akan menghadapi bonus demografi dengan 70 persen penduduk dalam usia produktif. Namun, jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan bijak, potensi masalah sosial seperti kemiskinan, kesehatan yang buruk, pengangguran, dan tingkat kriminalitas yang tinggi bisa terjadi. Nahdiana menekankan perlunya menyiapkan generasi yang tidak hanya memiliki pendidikan yang baik, tetapi juga berkompeten dan memiliki daya saing. Oleh karena itu, skema sistem layanan *multi-entry* yang dirancang memungkinkan peserta didik untuk dengan mudah beralih ke pendidikan vokasi formal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Dengan adanya Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang dapat diterapkan dalam dunia kerja, hal ini berpotensi untuk memperluas akses dan relevansi pendidikan. Nahdiana menyatakan bahwa ini adalah kesempatan besar bagi kursus dan pelatihan untuk beradaptasi dengan kebutuhan yang terus berubah dan berintegrasi dengan pendidikan formal serta dunia usaha. Secara keseluruhan, kursus dan pelatihan menawarkan fleksibilitas yang diperlukan, sehingga pemerintah dapat berperan sebagai dukungan penting dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan dan meraih potensi penuh Indonesia Emas 2045. ANTARA