JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Mantan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), As’ad Said Ali, memberikan pandangannya mengenai situasi yang melanda organisasi tersebut. Ia menilai bahwa Muktamar NU yang dilaksanakan dengan buruk akan berimplikasi pada hasil kepengurusan yang didapatkan. Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap kondisi terkini PBNU, yang dianggap mengalami berbagai konflik dan kekacauan internal. Menurut As’ad, kisruh yang sedang terjadi dalam tubuh PBNU saat ini merupakan dampak dari Muktamar yang berlangsung di Lampung, yang dinilai penuh dengan rekayasa. "Hasil dari muktamar ini telah menciptakan ketidakstabilan dalam organisasi. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika saat ini PBNU terjerat dalam berbagai konflik dan kekacauan," tuturnya saat ditemui di Cilandak, Jakarta. Di sisi lain, A. S. Hikam, yang juga merupakan mantan politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa, turut mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menilai bahwa arah gerakan PBNU kini telah jauh dari khitah, atau pedoman dasar, yang seharusnya menjadi acuan utama bagi organisasi tersebut. "Khitah PBNU saat ini tidak lagi terfokus pada isu-isu sosial dan keagamaan yang menjadi tugas utama organisasi. Sebaliknya, banyak energi yang terkuras untuk menangani isu politik yang seharusnya bisa dihindari," ungkapnya. Arifin Junaidi, mantan Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama, menekankan pentingnya peran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meskipun dalam kondisi PBNU yang penuh tantangan. Ia berharap PKB tetap berfungsi sebagai representasi politik NU, namun harus tetap dalam koridor yang sesuai dengan nilai-nilai khitah PBNU. Ketiga tokoh tersebut mengungkapkan pandangannya dalam acara Silaturahmi Nasional yang bertemakan "Penerapan Khitah NU dalam Politik Kebangsaan." Acara ini diselenggarakan oleh Akademi Kepemimpinan Dipantara, sebuah lembaga yang fokus pada kajian kepemimpinan di kalangan Nahdlatul Ulama. ANTARA