PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Coordinator of Indonesia Studies Programme, ISEAS-Yusof Ishak Institute, Prof Hui Yew-Foong dan Deputy Social Sciences and Humanities, National Research and Innovation Agency atau BRIN, Prof Dr Najib Burhani membuka International Workshop bertajuk "Precarity and Sustainability: Society and Ecology in Indonesia" di Singapura, 21-22 Agustus 2024.

"International Workshop ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan yang rumit antara kerentanan sosial dan kerapuhan ekologis dalam konteks Indonesia," kata Prof Hui menyampaikan speakernya kemarin seperti dalam rilis yang diterima Borneonews.

Isu precarity menurutnya telah lama menjadi subjek diskusi akademis dan aktivis, terutama setelah krisis global seperti perubahan iklim, pandemi Covid-19, dan konflik terkini.

"Ketika krisis terjadi, hal ini tidak hanya menimbulkan tantangan, tetapi juga peluang, memicu momen perubahan yang berpotensi untuk pembaruan dan restrukturisasi," tuturnya lagi.

Meskipun precarity menurutnya telah diteorikan dan dipelajari selama beberapa dekade, perhatiannya semakin meningkat setelah krisis ekonomi tahun 2008, dengan para sarjana seperti Butler (2015, 2010) menggambarkan precariousness sebagai kondisi ontologis dan precarity sebagai ketidakadilan yang diinduksi secara politik.

--page

Kegiatan ini juga diikuti beberapa akademisi dari Indonesia, salah satunya Profesor Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara atau USU yang menjadi salah satu Pembicara dalam Panel 2 bertajuk Praktik Pertanian yang Tidak Berkelanjutan, kemarin.

Sementara hari ini, Prof Rahmawaty kembali akan menjadi moderator dalam Panel 4 bertajuk "Marginalization and Resource Conflicts" dengan Pembahas Assoc Prof Jamie Davidson, National University of Singapore. Sementara tiga narasumber dalam Panel 4 yakni Assoc Prof Maribeth Erb (NUS)

yang membawa materi "Considering How to Make Tourism Less Extractive and More Sustainable: Examining

Recent Developments in Labuan Bajo, Flores", kemudian ada Yogi Setya Permana dari BRIN yang membawa materi Re-interpreting Climate Adaptation: Nickel Mining and the Marginalization of Communities in Indonesia’s Resource Frontiers, serta ada Dr Rusli Cahyadi yang juga dari BRIN membawa materi "Perpetual Marginalisation: Local Communities in Splintered Nusantara Forest City".

Kegiatan selama dua hari ini nantinya akan ditutup melalui Closing Remarks oleh Dr Siwage Dharma Negara yang merupakan Senior Fellow, Indonesia Studies Programme, ISEAS-Yusof Ishak Institute dan Dr Rospita O. P. Situmorang dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora, BRIN. (TESTI PRISCILLA/j)