PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kerentanan Lingkungan di Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi krisis lingkungan berulang, termasuk kebakaran hutan dan lahan, banjir, dan tanah longsor, yang semakin parah dalam beberapa tahun terakhir.

"Misalnya, Jakarta sebagai ibu kota, telah berkembang menjadi megakota tanpa sistem dukungan lingkungan, maka menghadapi masalah seperti penurunan tanah dan naiknya permukaan laut yang menyebabkan banjir secara rutin," kata Coordinator of Indonesia Studies Programme, ISEAS-Yusof Ishak Institute, Prof Hui Yew-Foong pada Kamis, 22 Agustus 2024.

Hal ini disampaikan Prof Hui dalam kegiatan International Workshop bertajuk "Precarity and Sustainability: Society and Ecology in Indonesia" di Singapura, 21-22 Agustus 2024. Bersama Deputy Social Sciences and Humanities, National Research and Innovation Agency atau BRIN, Prof Dr Najib Burhani

dirinya menyampaikan sambutan kepada seluruh akademisi yang hadir di ISEAS Yusuf Ishak Institut, Singapura.

"Banjir dahsyat di Demak, Jawa Tengah, pada Maret 2024 menyebabkan banyak desa terendam dan puluhan ribu orang mengungsi, menyoroti perlunya mengatasi faktor-faktor yang memperburuk bencana tersebut," katanya lagi.

--page

Dampak krisis lingkungan, katanya, melampaui kekhawatiran kemanusiaan langsung dan mencakup isu-isu lebih luas seperti ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan koherensi sosial.

"Perubahan iklim memperparah kerentanan yang sudah ada, memperdalam ketidaksetaraan struktural yang mendasari precarity, seiring dengan warisan sejarah kapitalisme kolonial," katanya lagi.

Akibatnya, tutur Prof Hui, precarity lingkungan menjadi peluang ekonomi dalam berbagai cara, mulai dari memanfaatkan ketidakamanan pangan melalui pengembangan pertanian hingga teknologi energi hijau dan produk ramah lingkungan, serta aspek-aspek lain yang disebut sebagai 'ekologi politik yang rawan'.

Kegiatan ini juga diikuti beberapa akademisi dari Indonesia, salah satunya Profesor Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara atau USU yang menjadi salah satu Pembicara dalam Panel 2 bertajuk Praktik Pertanian yang Tidak Berkelanjutan, kemarin.

Sementara hari ini, Prof Rahmawaty kembali akan menjadi moderator dalam Panel 4 bertajuk "Marginalization and Resource Conflicts" dengan Pembahas Assoc Prof Jamie Davidson, National University of Singapore. Sementara tiga narasumber dalam Panel 4 yakni Assoc Prof Maribeth Erb (NUS)

yang membawa materi "Considering How to Make Tourism Less Extractive and More Sustainable: Examining

Recent Developments in Labuan Bajo, Flores", kemudian ada Yogi Setya Permana dari BRIN yang membawa materi Re-interpreting Climate Adaptation: Nickel Mining and the Marginalization of Communities in Indonesia’s Resource Frontiers, serta ada Dr Rusli Cahyadi yang juga dari BRIN membawa materi "Perpetual Marginalisation: Local Communities in Splintered Nusantara Forest City".

--page

Kegiatan selama dua hari ini nantinya akan ditutup melalui Closing Remarks oleh Dr Siwage Dharma Negara yang merupakan Senior Fellow, Indonesia Studies Programme, ISEAS-Yusof Ishak Institute dan Dr Rospita O. P. Situmorang dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora, BRIN. (TESTI PRISCILLA/j)