**Borneonews - Beijing**, Pemerintah China menyampaikan keprihatinan yang mendalam terkait rencana perubahan strategi persenjataan nuklir yang diusulkan oleh Amerika Serikat, yang dinilai bertujuan untuk mengatasi peningkatan kemampuan nuklir Tiongkok. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, saat melangsungkan konferensi pers di Beijing.
Dalam kesempatan tersebut, Mao Ning menjelaskan, "China sangat khawatir dengan laporan mengenai perubahan rancangan militer tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, AS telah menyebut China sebagai 'ancaman nuklir' yang kemudian dijadikan alasan untuk mengabaikan komitmennya dalam melucuti senjata nuklir." Ia menegaskan kembali bahwa pendekatan tersebut tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
Laporan dari media di AS mengungkapkan bahwa pada Maret 2024, Presiden Joe Biden akan menyetujui rencana strategi nuklir yang bersifat sangat rahasia. Strategi ini untuk kali pertama akan berpindah fokus dari *deterrence* atau penggentaran menjadi respons terhadap percepatan pengembangan senjata nuklir oleh China. Pentagon meyakini bahwa kemampuan senjata nuklir Tiongkok akan dapat menyaingi volume dan variasi senjata yang dimiliki AS dan Rusia dalam dekade mendatang.
Mao Ning juga menambahkan bahwa AS justru terus memperluas arsenal nuklirnya dan berupaya meraih dominasi strategis yang absolut, sambil menegaskan bahwa ukuran persenjataan nuklir Tiongkok jauh berbeda dari Amerika Serikat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa China menerapkan kebijakan *no first use* atau "tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu" dan berkomitmen untuk menjaga kemampuan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan demi menjaga keamanan nasional. "Kami tidak memiliki niat untuk terlibat dalam perlombaan senjata dengan negara manapun. Sebaliknya, AS adalah negara yang memiliki arsenal nuklir paling besar dan paling maju di dunia," ungkap Mao Ning.
Meskipun AS berpegang pada prinsip bahwa senjata nuklir bukanlah alat penggentaran yang pertama, namun faktanya mereka menginvestasikan secara signifikan untuk memperkuat *nuclear triad*, yang mencakup rudal nuklir darat, kapal selam yang dipersenjatai dengan rudal nuklir, serta pesawat strategis yang dilengkapi dengan bom dan rudal nuklir.
Mao Ning bahkan menyebutkan, "AS adalah pusat utama dari ancaman nuklir dan risiko strategis di tingkat global. Kami mendorong AS untuk memenuhi tanggung jawabnya dalam pelucutan senjata nuklir, dengan melakukan pemangkasan yang signifikan dan substansial terhadap persenjataan nuklir mereka, menghentikan penyebaran senjata nuklir serta perluasan aliansi nuklir yang merugikan, yang berpotensi menimbulkan instabilitas global dan regional."
Dokumen keamanan strategis mengenai senjata nuklir AS diperbarui setiap empat tahun dan bersifat sangat rahasia, dengan hanya sedikit salinan cetak yang tersedia bagi pejabat tinggi keamanan nasional dan komandan Pentagon.
Berdasarkan perkiraan intelijen AS, ada kemungkinan China akan dapat meningkatkan jumlah hulu ledak nuklirnya dari 500 menjadi 1.000 menjelang tahun 2030. Sementara itu, Rusia diperkirakan memiliki sekitar 4.000 hulu ledak nuklir sebagai pendorong utama strategi baru Washington.
Laporan yang dirilis oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada tahun 2023 mencatat bahwa jumlah total hulu ledak nuklir secara global meningkat menjadi 9.576 dari jumlah sebelumnya yang tercatat 9.440 pada tahun 2022.
Saat ini terdapat sembilan negara yang memiliki hulu ledak nuklir, antara lain Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, China, India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel. Dari total 9.576 hulu ledak tersebut, sekitar 3.844 di antaranya sudah ditempatkan dalam kondisi siap serang, sementara sisanya memiliki status cadangan.
Sebagian besar limpahan senjata nuklir di dunia saat ini dikuasai oleh AS dan Rusia, dua negara yang dikenal memiliki rivalitas yang kuat berakar dari era Perang Dingin. Negara-negara seperti Rusia, China, India, Pakistan, dan Korea Utara tercatat menambah jumlah hulu ledak mereka.
Pertumbuhan pesat dalam jumlah senjata nuklir China mencerminkan penambahan hulu ledak dari 350 menjadi 410. Negara tersebut juga diyakini berpotensi mencapai jumlah rudal balistik antarbenua yang sebanding dengan AS atau Rusia pada akhir dekade ini.
Meskipun AS, Inggris, Prancis, dan Israel tidak melaporkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir, mereka diyakini tidak akan tinggal diam terhadap langkah-langkah yang diambil negara-negara lain dalam meningkatkan arsenal nuklir mereka.
Konflik geopolitik yang muncul akibat invasi Rusia ke Ukraina, yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun, diperkirakan telah memperburuk ancaman terjadinya perang nuklir. Pada tahun 2022, Inggris dan AS bahkan mengklasifikasikan informasi mengenai kekuatan nuklir mereka, seiring dengan Rusia yang menarik diri dari perjanjian pelucutan senjata nuklir dengan AS, yaitu *New START*. AS juga menghentikan dialog bilateral dengan Rusia mengenai isu yang sama.
ANTARA
China Respon Rencana Strategi Nuklir Amerika, Khawatir Akan Dampak Global
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Komentar (0)
Memuat komentar…







