JAKARTA –
**Borneonews - Istanbul**, Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, telah melakukan diskusi terkait upaya mediasi untuk menghentikan konflik yang berkepanjangan di Jalur Gaza. Pembicaraan tersebut berlangsung melalui telepon pada Rabu, setelah kunjungan Blinken ke Doha, yang diketahui dilakukan pada Selasa malam. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Emiri Diwan, disebutkan bahwa pembicaraan antara kedua pejabat ini mencakup hubungan strategis serta perkembangan terkini di wilayah Palestina. Tujuan utamanya adalah untuk merumuskan langkah-langkah bersama dalam rangka mengakhiri perang yang telah menelan banyak korban jiwa di Gaza. Antony Blinken menyelesaikan tur regional yang mencakup Israel dan Mesir sebelum meninggalkan Doha. Dalam laporan yang ada, tidak ada informasi resmi mengenai apakah dalam kunjungannya, Blinken bertemu langsung dengan Syekh Tamim atau Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Lebih lanjut, pada pagi hari setelah pembicaraan tersebut, Kementerian Luar Negeri Qatar menyampaikan bahwa Perdana Menteri juga telah berdiskusi dengan Blinken mengenai upaya untuk mencapai gencatan senjata di Gaza. Dalam beberapa bulan terakhir, upaya bersama antara Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir telah dilakukan untuk menjembatani kesepakatan antara Israel dan Hamas. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi pertukaran tahanan serta memastikan akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. Namun, proses mediasi ini terhambat oleh penolakan pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memenuhi tuntutan Hamas yang meminta penghentian serangan. Meskipun ada resolusi dari Dewan Keamanan PBB yang mendesak agar gencatan senjata segera diterapkan, Israel terus melanjutkan serangan-serangan brutal di Gaza setelah insiden mematikan pada 7 Oktober 2023. Akibat konflik yang terus berlangsung, lebih dari 40.200 warga Palestina, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas, sementara hampir 93 ribu orang lainnya mengalami luka-luka, berdasarkan data dari otoritas kesehatan setempat. Keadaan di kawasan Gaza semakin memburuk akibat blokade yang dijalankan, yang menyebabkan krisis parah dalam ketersediaan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Banyak wilayah di Gaza yang berpotensi mengalami kehancuran total akibat kondisi ini. Lebih lanjut, Israel kini menghadapi tudingan genosida di hadapan Mahkamah Internasional, yang menuntut agar semua operasi militer di selatan kota Rafah dihentikan. Sudah diketahui bahwa wilayah tersebut menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina sebelum menjadi sasaran serangan pada 6 Mei. ANTARA