MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, melaporkan bahwa realisasi investasi di wilayah tersebut telah mencapai 55,50 persen hingga triwulan kedua tahun 2024. Angka ini mewakili sekitar Rp887,98 miliar dari total target investasi sebesar Rp1,6 triliun. Kepala DPMPTSP Kota Mataram, H Amiruddin, menyampaikan bahwa sumber investasi tersebut berasal dari empat belas sektor yang berbeda. Di antara sektor-sektor tersebut, sektor perdagangan dan reparasi mendominasi dengan total investasi mencapai Rp187,33 miliar di triwulan pertama. Selanjutnya, sektor transportasi, gudang, dan komunikasi berkontribusi sebesar Rp99,15 miliar, diikuti oleh sektor jasa yang mencapai Rp94,44 miliar, serta sektor hotel dan restoran dengan nilai investasi sebesar Rp10,59 miliar. Amiruddin menegaskan optimisme pihaknya bahwa target investasi yang ditetapkan sebesar Rp1,6 triliun dapat tercapai pada akhir tahun ini. Hal ini terutama dimungkinkan dengan keberadaan proyek pembangunan Prime Plaza Hotel dan Resorts yang berlokasi di terusan Jalan Bung Hatta Monjok, yang belum tercatat dalam laporan realisasi triwulan kedua. Investasi untuk hotel tersebut diperkirakan mencapai Rp450 miliar. Pembangunan Prime Plaza Hotel ini menjadi salah satu indikasi positif perkembangan investasi di Mataram, yang berpotensi meningkatkan fasilitas dan memberikan dampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah tersebut. Selain itu, terdapat pula berbagai investasi lainnya yang diperkirakan akan terus meningkat, terutama dalam sektor perdagangan dan reparasi yang saat ini masih dalam tahap proses. Amiruddin menambahkan bahwa, meskipun data yang masuk belum sepenuhnya komprehensif akibat beberapa kendala teknis, realisasi investasi Kota Mataram menempatkannya pada posisi ketiga di antara kabupaten/kota lainnya di NTB, jika tidak menghitung sektor tambang. Di Kabupaten Sumbawa, investasi memang cenderung tinggi berkat sektor tambang yang ditonjolkan. "Tanpa melibatkan sektor tambang, kami berhasil masuk ke dalam tiga besar, bahkan mengungguli Kabupaten Lombok Tengah yang memiliki kawasan ekonomi kreatif Mandalika," pungkasnya. ANTARA