JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Negara World Resources Institute (WRI) Indonesia, Nirarta Samadhi, menekankan pentingnya sektor industri sebagai salah satu unsur paling krusial dalam mencapai target iklim Indonesia yang ditetapkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Dalam acara Road to Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2024, yang berlangsung di Jakarta, Nirarta mengungkapkan bahwa pencapaian target NDC Indonesia masih memiliki ruang yang sangat luas untuk diperbaiki. Hal ini membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis, masif, dan terstruktur untuk mencapainya. "Kami percaya bahwa sektor industri memiliki potensi yang besar untuk berperan sebagai agen perubahan dalam situasi ini," ujar Nirarta. Dari perspektif dampak lingkungan, sektor industri di Indonesia menyumbang sekitar 34 persen dari total emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Kontribusi emisi ini tersebar di berbagai sektor, termasuk energi, limbah, serta proses industri dan penggunaan produksi (*industrial process and production use* atau IPPU). Lebih lanjut, sebanyak 42 persen dari emisi yang berasal dari sektor energi—yang merupakan penyumbang emisi terbesar di negara ini—diakibatkan oleh aktivitas dan konsumsi dari sektor industri. Di sisi ekonomi, sektor tersebut juga berkontribusi signifikan, yaitu sekitar 41 persen terhadap produk domestik bruto dan memberikan lapangan pekerjaan bagi 19,3 juta orang pada tahun 2023. Dengan karakteristiknya yang inovatif dan fleksibel, sektor industri memiliki kemampuan untuk mempercepat realisasi ambisi keberlanjutan, lebih cepat dibandingkan dengan pemangku kepentingan lain. "Berdasarkan tiga potensi yang ada, langkah dekarbonisasi di sektor industri menjadi sangat strategis. Ini tidak hanya penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga dapat memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta penciptaan lapangan kerja yang ramah lingkungan di Indonesia," tambahnya. Dalam konteks yang sama, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) dari Kementerian Perindustrian, Andi Rizaldi, menyatakan bahwa sesuai dengan dokumen Enhanced NDC, target pengurangan emisi telah ditetapkan meningkat menjadi 31,89 persen melalui upaya mandiri dan 43,20 persen dengan dukungan internasional. Andi menjelaskan bahwa dari total emisi kurang lebih 400 juta ton CO2 ekuivalen yang dihasilkan pada tahun 2023 dan 800 juta ton CO2 ekuivalen yang mungkin terjadi pada tahun 2030, hampir 50 persen di antaranya berasal dari sektor manufaktur. "Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian memiliki keyakinan yang kuat dan optimis bahwa dengan dukungan dari berbagai pihak, kita bisa mencapai *net zero emission* pada tahun 2050, sementara untuk target nasional dapat dicapai pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat," jelas Andi. Untuk mencapai hal ini, Kementerian Perindustrian telah mengembangkan berbagai inisiatif. Ini termasuk pembuatan peta jalan dekarbonisasi untuk sembilan subsektor industri prioritas, peta jalan perdagangan karbon, perumusan dan penerbitan standar industri hijau, serta penyusunan kebijakan yang mendukung upaya dekarbonisasi di sektor industri. ANTARA