JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOT) di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan manfaat luar biasa dari ramuan tradisional Madura untuk kesehatan kaum perempuan. Peneliti Suharmiati menjelaskan bahwa ramuan jamu yang berasal dari daerah Madura memiliki berbagai jenis dan khasiat, terutama bagi perempuan. Suharmiati menyebutkan, salah satu ramuan tradisional yang dikenal adalah jamu pluntur, yang bermanfaat untuk mengatasi masalah terkait pascanifas atau masalah menstruasi lainnya. Selain itu, terdapat berbagai ramuan lain yang menggunakan berbagai jenis tanaman obat, antara lain *Elephantopus scaber* yang dikenal sebagai tapak liman, *Andrographis paniculata* atau sambiloto, *Sida rhombifolia* yang dikenal sebagai seleguri, *Nigella sativa* atau jintan hitam, serta *Kaempferia galanga* yang merupakan kencur. Menurut Suharmiati, praktik penggunaan ramuan tradisional ini sudah diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak, terutama dengan memberikan jenis ramuan yang memiliki rasa manis. Contohnya, untuk remaja putri, ramuan jamu ini diberikan secara rutin mulai dari menstruasi pertama untuk menjaga kesehatan, mengencangkan rahim, dan mengatasi nyeri saat haid. Selain itu, ada juga perawatan kulit yang dilakukan melalui lulur. Budaya minum jamu di kalangan perempuan Madura sangat kental, di mana mereka lebih mengutamakan untuk mengonsumsi jamu daripada makanan. Hal ini didukung oleh penelitian yang menunjukkan bahwa setelah mengonsumsi jamu Madura, para perempuan merasakan tubuh mereka menjadi lebih sehat, bugar, dan kuat. Lebih jauh, Suharmiati mengatakan bahwa ada ritual khusus yang dilakukan menjelang pernikahan, terutama untuk calon pengantin wanita. Proses ini dimulai satu bulan sebelum pernikahan, di mana calon pengantin pria juga mengonsumsi jamu khusus yang dicampur dengan kuning telur dan madu, bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan vitalitas. Selama masa kehamilan, wanita-wanita Madura mengonsumsi beragam ramuan jamu, seperti jamu anton-anton muda, jamu anton-anton tua, jamu cabe puyang, serta air kelapa muda, dengan porsi yang lebih diperhatikan terutama pada usia kehamilan 7 hingga 9 bulan. Pada saat persalinan, mereka mengonsumsi air perasan kunyit, minyak kelapa yang dibuat sendiri, serta kuning telur untuk membantu kelancaran proses persalinan, serta jamu untuk memperlancar ASI dan ramuan pasca persalinan. Suharmiati menekankan pentingnya melestarikan ramuan tradisional Madura, yang merupakan warisan budaya Indonesia. Meskipun banyak digunakan oleh kaum ibu, ramuan ini harus diperhatikan dan dikembangkan lebih lanjut dengan mengikuti standar yang lebih terstruktur. Ia mendorong pengembangan ramuan Madura secara klinis dengan melakukan serangkaian tes serta penggunaan bahan baku yang terstandarisasi. Dengan komposisi yang tepat, ramuan jamu Madura memiliki potensi besar untuk dipasarkan lebih luas, meskipun penelitian lebih lanjut mengenai dosis dan penggunaannya masih sangat diperlukan. ANTARA