JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menginformasikan bahwa total aset yang dimiliki oleh industri jasa keuangan di Indonesia telah mencapai angka yang signifikan, yakni Rp34 ribu triliun. Pernyataan ini disampaikan oleh Mahendra dalam acara Pencanangan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang berlangsung di Jakarta pada hari Kamis. Mahendra menjelaskan bahwa pencapaian total aset yang mencakup kapitalisasi seluruh industri jasa keuangan ini menunjukkan betapa besar kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia juga menyoroti bahwa jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN, kontribusi industri jasa keuangan Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat ruang yang sangat besar bagi sektor jasa keuangan untuk meningkatkan nilai tambah dan perannya dalam perekonomian nasional. Mahendra menekankan pentingnya peningkatan efisiensi dalam sektor ini yang diharapkan dapat menurunkan biaya bunga atau *cost of fund* yang dibebankan kepada masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini, menilai penguatan serta pengembangan industri jasa keuangan sebagai langkah yang mendesak dan sangat prioritized. Selain itu, saat ini terdapat peluang pengembangan yang luas, terutama jika kita melihat tingkat inklusi keuangan yang mencapai 75 persen dan indeks literasi keuangan sebesar 65,43 persen. "Saya yakin, literasi dan inklusi keuangan yang kuat akan menjadi kunci untuk meningkatkan likuiditas di pasar serta mendukung penyaluran pembiayaan yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional," tandas Mahendra. Dengan demikian, upaya dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan menjadi sangat penting dalam menciptakan fondasi yang lebih kuat bagi perkembangan sektor jasa keuangan ke depan. ANTARA