JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Republik Indonesia menganggap kawasan Afrika sebagai wilayah strategis yang menawarkan potensi besar untuk menjalin kerja sama ekonomi, yang dapat memberikan manfaat pengembangan baik bagi Indonesia maupun negara-negara yang terdapat di benua tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri RI, Pahala N Mansury, menyampaikan pendapat ini dalam sebuah acara jumpa pers yang berlangsung di Jakarta. Acara tersebut membahas rencana penyelenggaraan Indonesia Africa Forum (IAF) Ke-2, yang direncanakan pada hari Kamis mendatang. Menurut Pahala, kerjasama yang lebih intensif diharapkan dapat terwujud mengingat adanya nilai strategis yang bisa dibangun antara Indonesia dan berbagai negara di Afrika. Ia juga menekankan bahwa negara-negara yang tergabung dalam kawasan Selatan, termasuk Indonesia serta negara-negara Afrika, seharusnya dapat memperkuat posisi non-blok di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Diharapkan, solidaritas antarnegara *Global South* ini dapat membantu meredakan ketegangan yang ada. Pahala menegaskan bahwa Indonesia serta negara-negara Afrika berhak untuk mengembangkan sumber daya yang dimiliki. Ia menggarisbawahi pentingnya aspek *right to develop*, yang merupakan salah satu prinsip dasar yang ingin diperjuangkan bersama dengan negara-negara Afrika. Selanjutnya, Pahala menyoroti potensi kerja sama dalam sektor ketahanan energi, mengingat Afrika memiliki sekitar 10 persen dari total cadangan minyak dunia. Selain itu, benua ini juga kaya akan mineral strategis seperti kobalt, litium, dan grafit. Dengan digelarnya IAF Ke-2, Pahala berharap dapat mendorong kerja sama dalam sektor hilirisasi mineral-mineral kritis ini. Pahala juga mencatat bahwa pertumbuhan populasi di Afrika telah menunjukkan peningkatan signifikan, kini mencapai 1,4 miliar penduduk. Dengan situasi seperti ini, ia percaya bahwa Indonesia memiliki peluang untuk melakukan diversifikasi pasar ke segmen non-tradisional, termasuk di sektor kelapa sawit, makanan dan minuman, hingga produk tekstil. Dengan demikian, akses ke pasar Afrika yang luas ini diharapkan bisa meningkatkan pasokan komoditas, memperluas tujuan ekspor, serta membuka peluang investasi di luar negeri. Berdasarkan laporan dari Bank Pembangunan Afrika, pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 3,2 persen pada tahun 2023, dan dapat meningkat menjadi 3,8 persen pada tahun 2024. Pahala menekankan arti strategis hubungan ini, sehingga perluasan kerja sama antara Indonesia dan Afrika harus dimulai sejak sekarang. Indonesia akan menyelenggarakan IAF Ke-2 pada tanggal 1 hingga 3 September 2024 di Nusa Dua, Bali. Tema yang diangkat pada pertemuan ini adalah *Bandung Spirit for Africa's Agenda 2063*. Dalam acara akbar ini, enam kepala negara atau pemerintahan dari Afrika dipastikan akan hadir. Acara ini bertujuan untuk memperkuat diplomasi ekonomi, meningkatkan kerja sama perdagangan, dan membuka akses ke pasar non-tradisional antara Indonesia dan negara-negara Afrika. ANTARA