JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, PT MRT Jakarta (Perseroda) menginformasikan bahwa progres pembangunan proyek MRT fase 2A yang menghubungkan Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Kota, dengan panjang total sepanjang 5,6 kilometer, telah mencapai angka 40 persen. Proyek ini terbagi menjadi dua segmen, yaitu segmen pertama dari Bundaran HI ke Harmoni yang direncanakan selesai pada tahun 2027, serta segmen kedua dari Harmoni hingga Kota yang ditargetkan akan selesai pada tahun 2029. Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, menyampaikan dalam sebuah diskusi panel daring bertajuk "Defending Organizational Objectives: Strategies Against Fraud" bahwa progres konektivitas antara Bundaran HI dan Kota rata-rata telah mencapai 40 persen. Dia menambahkan, koneksi *tunnel* antara Bundaran HI hingga Harmoni telah mencapai 80 persen. Lebih lanjut, Tuhiyat menjelaskan bahwa terowongan dari Glodok menuju Kota juga sudah terhubung. Sementara itu, proses penghubungan antara Harmoni dan Mangga Besar masih berlangsung. Pada kesempatan tersebut, Tuhiyat juga menekankan bahwa PT MRT Jakarta tengah mempersiapkan pembangunan fase 3 yang akan membentang dari timur ke barat, mulai dari Cikarang di Jawa Barat hingga Balajara di Banten, dengan total panjang 87 kilometer. Fase pertama dari tahap ini, yaitu Medan Satria ke Tomang, memiliki panjang 24,5 kilometer. “Jika tidak ada halangan, insyaallah peletakan batu pertama akan dilakukan pada awal September oleh Presiden di perempatan Kebon Sirih, tepatnya di depan Bank Indonesia,” ungkapnya. Selain itu, PT MRT Jakarta saat ini juga tengah dalam proses merencanakan fase 4 yang menghubungkan Fatmawati ke TMII, di mana fase ini akan terintegrasi dengan LRT Jabodebek. Tuhiyat menekankan bahwa semua proyek ini akan beroperasi sebagai *fully underground*. Dia juga menguraikan bahwa pihaknya berupaya untuk mencari berbagai skema pembiayaan, tidak sekadar mengandalkan *loan*, tetapi juga berbagai alternatif lain yang saat ini sedang dalam tahap eksplorasi. Lebih jauh, diungkapkan bahwa pembangunan dari beberapa fase tidak harus menunggu satu fase selesai. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap harapan masyarakat akan pentingnya transportasi publik yang efisien. “Fase-fase berikutnya terus kami laksanakan guna mengintegrasikan sistem transportasi publik, sehingga masyarakat dapat dengan mudah menjangkau tujuan mereka,” kata Tuhiyat menandaskan. ANTARA