**Borneonews - Jakarta**, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengungkapkan bahwa perempuan yang menjalin hubungan seksual sebelum mencapai usia 20 tahun berisiko tinggi mengembangkan kanker rahim.
Hasto menjelaskan bahwa pada usia 14 tahun, mulut rahim perempuan masih dalam kondisi *ektropion*, yaitu bagian yang berpotensi menjadi kanker masih berada di luar. Namun, setelah mencapai usia 20 tahun, kondisi ini berubah menjadi *entropion*, di mana bagian yang berpotensi kanker telah masuk ke dalam, sehingga risiko tersebut menjadi lebih besar saat melakukan hubungan seksual.
Pernyataan ini disampaikan Hasto saat menerima kunjungan dari perwakilan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) di Kantor Pusat BKKBN. Dalam kesempatan tersebut, ia juga merespons kekhawatiran masyarakat terkait Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 tahun 2024.
Dokter spesialis kandungan ini menekankan bahwa berhubungan seks setelah usia 20 tahun dapat mengurangi risiko kanker leher rahim atau serviks di masa dewasa. Ia menegaskan bahwa edukasi mengenai kesehatan reproduksi perlu dimulai sejak dini. Edukasi ini bukan hanya mengenai hubungan seksual, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kesehatan reproduksi bagi laki-laki dan perempuan, jelasnya.
Hasto juga mengingatkan pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi, yang akan membantu individu mengenali risiko yang menyertai hubungan seksual di usia muda. Dengan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang memadai, Hasto meyakini bahwa orang-orang akan lebih mampu mengambil keputusan yang bijak mengenai seksualitas mereka.
Lebih lanjut, Hasto menekankan potensi bonus demografi yang dimiliki Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa dari tahun 2020 hingga 2035, rasio ketergantungan akan menunjukkan angka yang menguntungkan, di mana setiap 100 individu yang produktif hanya perlu menopang 44 orang yang tidak produktif. Ini menjadikan periode tersebut sebagai masa keemasan bagi pembangunan sumber daya manusia.
Hasto berharap agar PB HMI dapat berperan aktif dalam menciptakan generasi yang unggul dan berdaya saing. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB HMI, Muhammad Jusrianto, menyentuh aspek penting lainnya, yaitu kebutuhan akan ketersediaan lapangan pekerjaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Jusrianto menyampaikan bahwa meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tantangan dalam pengendalian jumlah penduduk masih menjadi permasalahan yang perlu diatasi. Kenaikan jumlah penduduk harus sejalan dengan peningkatan kesempatan kerja agar negara dapat mengoptimalkan potensi yang ada.
Dalam konteks yang lebih luas, Jusrianto menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan populasi dan kesempatan kerja yang tersedia bagi masyarakat, sehingga Indonesia dapat maju secara berkesinambungan.
ANTARA
Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi bagi Perempuan Muda
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebakaran Rumah di Desa Kujan Berhasil Dipadamkan
OJK Edukasi 400 Peserta soal Investasi hingga Kejahatan Keuangan Digital
Boccia Rebut Emas ke-15 Bagi Kontingen Indonesia
Kodam XXII Tambun Bungai Bersama Bobon Santoso Sajikan 4.000 Porsi Makanan untuk Relawan Karhutla di Tumbang Nusa
Mario Aji Start P12 di Moto2 Australia
Gubernur Kalteng Tegaskan Komitmen Siapkan Fasilitas Kesehatan Warga Terdampak Kabut Asap
Komentar (0)
Memuat komentar…







