JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Didin Syafruddin, mengungkapkan bahwa penerapan *Pancasila* secara komprehensif merupakan kunci untuk memperkuat keberagaman di Indonesia. Menurutnya, *Pancasila* sebagai ideologi bangunan bangsa ini berfungsi sebagai jembatan yang menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap *Pancasila*, masyarakat diajak untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain, terlepas dari perbedaan suku, ras, maupun agama. Didin menekankan pentingnya penanaman pemahaman ini sejak usia dini. Ia mendorong agar pelajaran yang berhubungan dengan *Pancasila* diajarkan mulai dari lembaga pendidikan formal hingga satuan pendidikan keagamaan. Penerapan nilai-nilai *Pancasila* harus menjangkau semua aspek kehidupan masyarakat serta dunia pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan harmonis. Lebih lanjut, Didin menambahkan bahwa institusi pendidikan beridentitas agama harus terbuka dan menerima keberagaman. Hal ini penting agar mereka dapat menyambut baik kehadiran individu dari latar belakang agama yang berbeda. Keterbukaan antar warga negara dari beragam keyakinan dapat membantu masyarakat mengenal satu sama lain secara langsung. Dengan demikian, individu akan lebih mampu menanggapi informasi yang beredar, terutama yang berasal dari media sosial, dengan lebih bijak. Didin juga menyoroti dampak negatif dari informasi yang tidak tersaring, yang sering kali disalahgunakan untuk provokasi yang berpotensi memecah belah. Dalam pengalamannya melakukan penelitian tentang toleransi di kalangan anak-anak dan remaja, ia menemukan bahwa mereka yang memiliki sikap toleran biasanya berasal dari lingkungan yang beragam. Di sisi lain, anak-anak dan remaja yang menunjukkan kecenderungan intoleran biasanya dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi yang tidak menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas hidup seseorang berperan signifikan dalam pandangannya terhadap perbedaan, fenomena ini sering disebut sebagai deprivasi ekonomi. Kesulitan hidup yang dialami dapat dipersepsikan sebagai ketidakadilan, yang selanjutnya dapat memicu sikap intoleransi. Didin menegaskan bahwa mengatasi intoleransi tidak bisa semata-mata dilakukan dengan pendidikan formal dan informal. Penerapan *Pancasila* yang menyeluruh harus diiringi dengan upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, agar lebih kebal terhadap pengaruh ideologi transnasional yang merusak. Meskipun demikian, penerapan *Pancasila* yang menyeluruh masih menghadapi tantangan, salah satunya adalah penolakan terhadap pendirian rumah ibadah untuk umat minoritas, meskipun segala persyaratan administratif telah dipenuhi. Didin menegaskan bahwa hak beribadah seharusnya dijamin sepenuhnya oleh negara, sebagai bagian dari hak asasi setiap warga negara untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka. Hal ini, menurutnya, bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, semua pihak perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa Indonesia dapat menjadi negara yang mampu menghormati dan menaungi seluruh lapisan masyarakatnya. ANTARA