MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Dinas Kesehatan Kota Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat mengungkapkan bahwa mispersepsi di kalangan masyarakat mengenai imunisasi polio telah menjadi salah satu faktor yang menghambat cakupan imunisasi mencapai 100 persen. Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, H Emirald Isfihan, menyatakan bahwa hingga saat ini, pelaksanaan imunisasi polio di Mataram baru mencapai 83 persen dari target yang ditetapkan, yakni 46.000 anak berusia 0 hingga 7 tahun. Cakupan tersebut merupakan hasil dari upaya "sweeping" yang dilakukan petugas kesehatan ke rumah-rumah anak yang belum mendapatkan imunisasi. Aktivitas ini ditargetkan untuk selesai pada tanggal 24 Agustus 2024. Kegiatan "sweeping" ini dimulai pada Selasa, 20 bulan Agustus 2024, setelah berakhirnya Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahap kedua yang berlangsung hingga 19 Agustus 2024. Emirald menambahkan bahwa dalam pelaksanaan tahap kedua, pencapaian cakupan imunisasi berlangsung lebih lambat dibandingkan tahap sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai mispersepsi yang beredar, di mana masyarakat terpengaruh oleh *hoaks* dan informasi yang menyesatkan terkait imunisasi polio. Dia menjelaskan, banyak masyarakat yang percaya bahwa imunisasi polio dapat menyebabkan kelumpuhan atau penyakit lain, padahal program imunisasi yang dijalankan oleh pemerintah bertujuan untuk menjaga kesehatan generasi muda dengan mengatasi penyakit polio serta melindungi mereka dari risiko cacat permanen akibat infeksi virus tersebut. Emirald menegaskan bahwa apabila imunisasi berbahaya, tidak mungkin Dinas Kesehatan akan menjalankan program tersebut. Ia menekankan pentingnya kepercayaan pada para tenaga medis yang profesional dan memahami manfaat dari imunisasi. Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu dalam memberikan imunisasi polio kepada anak-anak mereka. Masyarakat diharapkan untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak valid, karena dampaknya dapat merugikan anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi. Emirald menyampaikan, “Jika ada kasus kelumpuhan, siapa yang akan bertanggung jawab?” Data dari Dinas Kesehatan Kota Mataram menunjukkan bahwa cakupan imunisasi polio pada tahap pertama berhasil melebihi target, mencapai 100,6 persen dari sasaran 46.000 anak. Kelebihan ini dikarenakan adanya anak-anak dari luar daerah yang menempuh pendidikan di Kota Mataram. Sebagai kota pendidikan, Mataram juga menjadi tujuan bagi anak-anak dari daerah lain yang belajar di sana, yang mana sebagian dari mereka terhitung dalam cakupan imunisasi di Kota Mataram. Dalam memberikan imunisasi, petugas Dinas Kesehatan tidak membedakan asal anak, selama terdapat izin dari orang tua dan status sekolah mereka di Mataram. Hal ini menyebabkan data imunisasi mereka tetap tercatat di Mataram, yang kemudian menjelaskan mengapa cakupannya melebihi target sebesar 0,6 persen. ANTARA