JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, meminta Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, untuk mengenalkan dirinya kepada sosok yang ia sebut sebagai "Raja Jawa". Permintaan tersebut disampaikan Megawati setelah pembacaan nama-nama bakal calon kepala daerah yang akan diusung oleh PDI Perjuangan dalam gelombang kedua di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta. Sebelumnya, salah satu staf Megawati mengungkapkan bahwa terdapat hal menarik pada berita pagi terkait pidato Bahlil Lahadalia saat penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar. Menanggapi itu, Megawati mengungkapkan tawa karena sepertinya Bahlil mengerti makna dari istilah "Raja Jawa", meskipun ia berasal dari Papua. "Saya ketawa, ketawanya, sudah dia ngomong Raja Jawa. Kayak dia mengerti artinya Raja Jawa, dia kan orang Papua. Makanya saya langsung sambil sarapan ketawa, wih," ungkap Megawati. Menyusul tawa tersebut, Megawati menyatakan ketertarikan untuk mengenal sosok yang disebut "Raja Jawa". Ia pun berkomentar, "Aku mau kenalan juga deh sama Raja Jawa-nya. Sejak kapan ada Raja Jawa? Awas kamu ya diplintir-plintir. Kapan ada Raja Jawa-nya," ujarnya dengan nada bercanda namun penuh rasa ingin tahu. Pada kesempatan sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyebutkan sosok "Raja Jawa" dalam pidato yang disampaikan pada Musyawarah Nasional XI Partai Golkar di Jakarta Convention Center. Dalam pidatonya, ia menekankan kepada para kader Golkar untuk tidak bermain-main dengan sosok yang disebutnya "Raja Jawa", karena dapat berakibat buruk. Sayangnya, Bahlil tidak menjelaskan siapa yang dimaksud dengan julukan tersebut. "Raja Jawa ini kalau kita main-main celaka kita. Saya mau kasih tahu saja jangan coba-coba main dengan barang ini. Waduh ngeri-ngeri sedap barang ini," tegas Bahlil kepada para kader. Pernyataan ini disampaikan setelah mengajak kader Partai Golkar untuk memberikan dukungan yang lebih kongkret terhadap pemerintahan yang akan datang, dipimpin oleh Prabowo dan Gibran, sebagai kelanjutan dari pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. ANTARA