JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan pentingnya kegiatan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) dan reklamasi hutan yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area tersebut. Keberlangsungan kegiatan ini sangat penting untuk memastikan bahwa dampak positifnya dapat dirasakan secara langsung oleh penduduk lokal. Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, Dyah Murtiningsih, menjelaskan dalam sebuah diskusi daring bahwa program rehabilitasi harus memiliki dua jenis manfaat: manfaat makro yang lebih besar serta manfaat yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Dia menekankan bahwa pendekatan yang diambil harus bertumpu pada prinsip keberlanjutan, agar setiap tindakan yang diambil dapat memberi efek positif jangka panjang. Sebagai ilustrasi, Dyah menyebutkan program rehabilitasi hutan mangrove yang dilakukan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, di mana lahan yang sebelumnya digunakan untuk perkebunan kelapa sawit berhasil dikembalikan ke ekosistem mangrove. Proses ini tidak hanya menyokong kelestarian lingkungan dengan kemampuan mangrove dalam menyimpan karbon dan mendatangkan kembali berbagai fauna, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui pengembangan objek wisata yang menarik. Situasi serupa juga dapat ditemukan di Taman Hutan Raya Ngurah Rai di Bali. Kawasan ini sebelumnya merupakan tambak pada tahun 1990-an, namun telah direhabilitasi menjadi ekosistem mangrove yang kini berfungsi sebagai ruang hijau dan juga salah satu daya tarik wisata di region tersebut. Contoh lainnya terjadi di wilayah kerja Balai Pengelolaan DAS Pemali Jeratun, Jawa Tengah, di mana sebanyak 30.000 batang pohon petai telah ditanam sebagai bagian dari program rehabilitasi. Dyah menekankan perlunya mempertimbangkan jenis tanaman yang dapat memberikan manfaat ekonomis bagi masyarakat, terutama di kawasan terbuka yang sudah dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Di samping itu, penanaman tanaman kayu juga perlu dilanjutkan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem. Pelibatan masyarakat dalam setiap aspek rehabilitasi dianggap sangat penting. Jika upaya penghijauan hanya fokus pada penanaman tanpa memperhatikan pemanfaatan yang berkelanjutan, hal tersebut berisiko mengakibatkan perambahan kembali. Oleh karena itu, pendekatan yang melibatkan masyarakat akan mendorong kesadaran dan tanggung jawab mereka terhadap pelestarian lingkungan yang lebih baik. ANTARA