**Borneonews - Ambon**, Pemerintah Provinsi Maluku telah menjalin kerja sama dengan tokoh-tokoh agama setempat untuk mengatasi dan mencegah masalah stunting di kalangan anak-anak. Inisiatif ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, termasuk orang tua dan remaja perempuan, mengenai pentingnya pencegahan stunting demi pertumbuhan optimal anak-anak.
Penjabat Gubernur Maluku, Sadali Ie, menyampaikan hal tersebut saat membuka webinar bertajuk "Penguatan Peran Tokoh Agama dalam Upaya Penurunan Stunting" untuk tingkat Provinsi Maluku tahun 2024, yang berlangsung di Kota Ambon. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa pencegahan stunting merupakan salah satu prioritas utama pemerintah pusat, sehingga dukungan dari tokoh-tokoh agama sangat dibutuhkan.
Sadali menjelaskan bahwa peran???????? sangat krusial dalam memberikan informasi seputar stunting. Melalui ceramah di tempat ibadah, para tokoh agama dapat menyampaikan pesan-pesan yang menjelaskan penyebab dan dampak dari stunting, serta pentingnya nutrisi yang baik untuk pertumbuhan anak. "Kami berharap para tokoh agama mampu menyebarkan informasi ini sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang sama. Dengan demikian, langkah pencegahan stunting dapat dilakukan secara menyeluruh," ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya kesepahaman di antara semua elemen masyarakat tentang tanggung jawab bersama dalam mencegah stunting. "Saatnya kita berkolaborasi dalam melakukan komunikasi yang efektif untuk menanggulangi stunting demi masa depan anak-anak kita," ungkapnya.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting di Maluku tercatat sebesar 28,4 persen, meningkat dari sebelumnya yaitu 26,1 persen di tahun 2022. Kenaikan jumlah stunting ini terjadi di tujuh kabupaten/kota di Maluku, dengan Kepulauan Aru mencatat kenaikan tertinggi yang mencapai 40,6 persen, meningkat dari 28,1 persen pada tahun lalu.
Ketika melihat data lebih lanjut, Kabupaten Buru Selatan dan Maluku Tenggara juga menunjukkan peningkatan angka stunting. Meskipun Buru Selatan mengalami penurunan dari 41,6 persen menjadi 35,5 persen, angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2023. Sebaliknya, Maluku Tenggara meningkat dari 26,8 persen menjadi 34 persen, jauh melampaui target yang ditentukan yaitu 15,44 persen.
Inisiatif kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Maluku dan tokoh agama diharapkan tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan stunting namun juga mendukung upaya pemerintah dalam mencapai target penurunan angka stunting secara signifikan di masa mendatang.
ANTARA
Kolaborasi Pemerintah Maluku dan Tokoh Agama Cegah Stunting
Bagikan:

AMBON –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Komentar (0)
Memuat komentar…







