**Borneonews - Jakarta**, Anggota Komisi V DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan persiapan mitigasi dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gempa *Megathrust* di Indonesia.
Syahrul menyatakan pentingnya melibatkan semua komponen pemerintahan yang ada agar dampak dari kejadian tersebut dapat diminimalkan, sehingga tidak menimbulkan kepanikan. Beliau menekankan, "Jika memang kejadian ini mungkin terjadi, maka harus ada langkah-langkah mitigasi yang jelas serta persiapan yang matang untuk menghadapi situasi darurat."
Di samping itu, Syahrul juga meminta BMKG untuk menyediakan informasi yang berbasis pada data yang akurat mengenai potensi gempa *Megathrust* tersebut. "Harapan kita adalah agar pemerintah memberikan informasi dengan bijak," ujarnya.
Dia juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap kritis dalam menyaring informasi yang berkaitan dengan bencana tersebut. "Kita minta masyarakat harus berhati-hati dan tidak langsung menerima informasi mengenai gempa *Megathrust* dari sumber yang tidak terpercaya," tegasnya.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, sebelumnya telah mengimbau pemerintah daerah agar menyiapkan tata ruang yang aman demi melindungi masyarakat jika gempa *Megathrust* benar-benar terjadi. "Penting untuk menyiapkan masyarakat dan pemerintah daerah sebelum terjadinya gempa dengan intensitas tinggi yang berpotensi memicu tsunami. Kami telah mengajak pemerintah daerah untuk bersama-sama memperkuat infrastruktur, menciptakan sistem evakuasi yang efektif, termasuk penentuan jalur dan lokasi tempat penampungan sementara," paparnya.
Lebih lanjut, Dwikorita menyampaikan bahwa zona-zona yang rawan seperti daerah pesisir sebaiknya tidak dipenuhi dengan bangunan. "Pemerintah daerah diharapkan dapat membatasi pembangunan di area pantai. Apabila bangunan seperti hotel tetap diizinkan, harus ada persyaratan untuk merancang bangunan yang dapat menahan gempa hingga 8,5 magnitudo," ujarnya.
Dwikorita memberikan contoh Pemda DIY yang telah melakukan upaya proaktif dalam menyiapkan tata ruang yang aman dengan membangun Bandar Udara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo. "Bandara ini telah dirancang untuk tahan terhadap potensi gempa *Megathrust*. Bangunan tersebut diharapkan mampu menampung 10.000 orang dan dilengkapi dengan desain yang dapat bertahan terhadap gempa berkekuatan 8,5 magnitudo. Saat terjadi gempa atau tsunami, penumpang disarankan untuk berlindung di lantai mezzanine atau lantai dua, dan terdapat Crisis Center yang mampu menampung 2.000 orang," ungkapnya.
ANTARA
Upaya Mitigasi Gempa Megathrust di Indonesia oleh DPR dan BMKG
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Jadwal Super League: Persib Hadapi Garudayaksa, Derbi Suramadu Warnai Pekan Ketujuh
Komentar (0)
Memuat komentar…







