JAKARTA –
**Borneonews - London**, Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kematian yang disebabkan oleh cuaca panas ekstrem di Eropa diperkirakan akan meningkat secara drastis dalam beberapa dekade mendatang. Jika tidak ada langkah-langkah signifikan yang diambil untuk mengatasi perubahan iklim, jumlah kematian ini bisa bertambah hingga 55.000 orang setiap tahunnya pada tahun 2100. Studi yang diterbitkan dalam jurnal *The Lancet Public Health* ini menegaskan bahwa peningkatan angka kematian tersebut akan mencapai 13,5 persen terkait dengan suhu ekstrem. Situasi ini kontras dengan proyeksi mengenai kematian akibat cuaca dingin, yang justru diprediksi akan mengalami penurunan. Saat ini, fenomena cuaca ekstrem di Eropa mengakibatkan sekitar 407.500 kematian setiap tahunnya, dengan penyebab utama berasal dari suhu dingin. Dari periode 1991 hingga 2020, rata-rata terjadi 364.000 kematian per tahun akibat cuaca dingin, sementara cuaca panas hanya menyumbang 44.000 kematian. Secara historis, kematian akibat suhu dingin lebih banyak terjadi di Eropa bagian timur. Di sisi lain, Eropa selatan mencatat angka kematian yang lebih tinggi karena pengaruh cuaca panas ekstrem. Meskipun demikian, diperkirakan bahwa tren ini akan berubah seiring dengan terus meningkatnya suhu global. Penelitian ini menyoroti bahwa wilayah Eropa selatan, bersama daerah-daerah dengan populasi lansia yang signifikan, akan menjadi yang paling rentan terhadap peningkatan frekuensi gelombang panas yang dapat menyebabkan kematian yang lebih banyak di masa depan. ANTARA