JAKARTA –
**Borneonews - Halmahera Tengah**, PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) telah memberikan bantuan logistik serta melakukan perbaikan infrastruktur jalan di sejumlah desa yang terpengaruh oleh banjir di Halmahera Tengah, Maluku Tengah. Banjir yang terjadi antara 20 hingga 24 Juli lalu mengakibatkan banyak desa terendam air, menimbulkan kerusakan yang cukup parah, dan memerlukan respon cepat dari berbagai pihak. Sebagai salah satu kawasan industri nikel terintegrasi pertama di Indonesia, sehingga IWIP merasa perlu untuk berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan desa-desa untuk memberikan bantuan yang secepatnya kepada masyarakat yang mengalami dampak. Kepala Desa Lelilef Sawai, Frileks Arbaben, menjelaskan bahwa kerjasama antar semua pihak sangat penting dalam menangani bencana ini. Dijelaskan bahwa sejatinya, desa tersebut sering mengalami banjir, namun biasanya terjadi dengan frekuensi yang lebih rendah. "Kolaborasi kita dalam mengevakuasi pengungsi dan memberikan bantuan sangat penting," ungkap Frileks. Ia menambahkan bahwa PT IWIP telah memberikan berbagai bantuan, mulai dari makanan hingga uang tunai kepada para korban yang terkena dampak. Selain itu, bantuan makanan, air bersih, dan pakaian juga menjadi fokus perhatian dari IWIP. Pemberian insentif berupa uang tunai kepada para lansia juga dilakukan melalui rekening yang telah ditentukan. "PT IWIP membantu perbaikan jalan yang terdampak di wilayah kami," imbuh Frileks. Kepala Desa Lukulamo, Aklon Sangaji, juga mengonfirmasi bahwa desanya menerima bantuan berupa bahan makanan dari IWIP. Bantuan tersebut disalurkan ke posko induk dalam bentuk sembako dan barang-barang lainnya yang dikoordinir oleh Divisi SDM IWIP. Zaki Alinuari, Koordinator Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Baabullah Ternate, mengungkapkan bahwa intensitas curah hujan di Halmahera Tengah relatif tinggi dari Januari hingga Juli 2024, dengan puncaknya terjadi pada bulan Mei dan Juni. Situasi ini meningkatkan risiko kejenuhan tanah, yang pada gilirannya dapat memicu banjir dan longsor. Zaki menambahkan bahwa perubahan suhu di wilayah tersebut telah menunjukkan tren pemanasan, yang meningkatkan kemungkinan terbentuknya awan *konvektif* atau awan hujan. Menurut catatan, terjadi tren peningkatan curah hujan di wilayah ini dari Mei hingga Agustus, sehingga peristiwa bencana sering terjadi dari bulan Juli hingga September. Sebelumnya, GM Eksternal IWIP, Wahyu Budhi Santoso, berharap bahwa bantuan yang telah diberikan dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana dan mempercepat proses pemulihan. "PT IWIP berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar," cetusnya. ANTARA