BOGOR –
**Borneonews - Sukabumi**, Pemerintah Kota Sukabumi, yang terletak di Jawa Barat, telah menjalin suatu bentuk kerja sama yang signifikan dalam pengolahan sampah dengan PT Semen Jawa, sebuah perusahaan semen yang merupakan bagian dari Siam Cement Group (SCG) asal Thailand. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi beban sampah dan menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, mengungkapkan bahwa nota kesepahaman (MoU) telah disusun untuk menghadirkan solusi inovatif melalui teknologi pengolahan sampah. Dalam inisiatif ini, sampah akan diubah menjadi bahan bakar alternatif yang dikenal sebagai *refuse derived fuel* (RDF). Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang diarahkan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul yang terletak di Kecamatan Lembursitu, sekaligus mendukung pengurangan konsumsi bahan bakar fosil. Lebih lanjut, Kusmana Hartadji menekankan bahwa pengolahan sampah menjadi energi bersih ini diharapkan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat setempat. Ia juga menambahkan harapan agar kerja sama ini dapat memfasilitasi transfer teknologi yang relevan, yang pada gilirannya dapat dikembangkan lebih lanjut di Kota Sukabumi, khususnya dalam aspek pengolahan sampah. Dari pihak PT Semen Jawa, Presiden Direktur Peramas Wajananawat juga mengonfirmasi bahwa inisiatif serupa sudah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi dengan memanfaatkan sampah dari TPA Cimenteng di Kabupaten Sukabumi. Saat ini, sebuah fasilitas sedang dibangun untuk mengolah sampah menjadi RDF, dengan kapasitas konversi mencapai 333 ton sampah menjadi 100 ton RDF setiap hari. Ketika fasilitas ini mulai beroperasi, diharapkan volume sampah dapat berkurang secara signifikan, mengingat TPA Cimenteng sudah mengalami kelebihan muatan yang cukup berarti. Sebagai bagian dari proses pengolahan sampah ini, PT Semen Jawa juga bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi RDF. Dalam waktu dekat, perusahaan ini berencana untuk menyusun rancangan bangun rinci atau *detailed engineering design* (DED) serta dokumen lingkungan hidup yang diperlukan untuk mendapatkan dukungan anggaran dari Kementerian PUPR terkait pembangunan fasilitas tersebut. ANTARA