DENPASAR –
**Borneonews - Denpasar, Bali**, Yayasan Coral Triangle Center (CTC), yang bersifat independen dan nirlaba, tengah berupaya mengembangkan kawasan konservasi laut di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai dukungan terhadap program ekonomi biru yang semakin penting bagi keberlanjutan sumber daya laut. Marthen Welly, Penasihat Konservasi Kelautan CTC, menjelaskan bahwa jika kawasan konservasi laut atau *Marine Protected Areas (MPA)* dikelola dengan baik, maka kawasan tersebut dapat terus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya dalam sektor pariwisata dan perikanan. Hal tersebut disampaikan dalam sebuah pernyataan di Denpasar pada hari Jumat. CTC saat ini beroperasi di sembilan kawasan konservasi laut di Indonesia, yang juga mencakup wilayah Timor Leste. Beberapa lokasi yang menjadi fokus pengembangan tersebut adalah Pulau Nusa Penida di Bali dan wilayah Maluku, termasuk Pulau Banda serta Pulau Boano di Seram Barat, hingga Kepulauan Sula di Maluku Utara. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh CTC adalah melakukan survei dan pengawasan terhadap terumbu karang dan biota laut di zona konservasi. Hasil survei ini kemudian disampaikan kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya sebagai dasar pengambilan keputusan. CTC juga berkomitmen untuk memberikan edukasi serta pelatihan kepada masyarakat, khususnya di daerah pesisir, mengenai pengelolaan dan perlindungan sumber daya kelautan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, sekaligus menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan dari sumber daya tersebut. Pengembangan MPA telah dilakukan oleh CTC sejak tahun 2010, dan upaya pemberdayaan masyarakat baru terlaksana dalam tiga tahun terakhir. Di Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida, misalnya, mereka mendukung pengembangan pariwisata berbasis mangrove dan pemanfaatan rumput laut yang diolah menjadi produk seperti kerupuk dan sabun. Produk sabun ini telah berhasil dipasarkan, bahkan direspon positif oleh pelaku industri perhotelan di Nusa Penida. CTC juga melakukan pengawasan terhadap terumbu karang dan populasi ikan secara rutin setiap tahun, serta melakukan patroli bersama masyarakat setiap bulan untuk mencegah pelanggaran atau kerusakan lingkungan di kawasan tersebut. Di luar sembilan MPA yang sudah ada, CTC memberikan pelatihan tentang konservasi dan restorasi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Salah satu lokasi yang mendapatkan perhatian adalah Pulau Seraya, yang terletak di luar kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Marthen menekankan bahwa perairan Indonesia, bersama lima negara lainnya—Timor Leste, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon—memiliki kekayaan terumbu karang dan biota laut yang merupakan sumber pangan serta ekonomi masyarakat setempat. Keenam negara ini dikenal karena memiliki terumbu karang terbesar di dunia, yang mendorong pembentukan inisiatif *Coral Triangle* untuk melindungi sumber daya laut tersebut. Aktivis kelautan ini juga menambahkan bahwa komunitas internasional saat ini berusaha untuk memperluas kawasan konservasi, termasuk pelindungan terumbu karang, yang memiliki dampak signifikan pada keberlanjutan planet dan ekonomi biru. Dia berharap, kerjasama antarnegara yang lebih intens dapat dilaksanakan melalui forum skala internasional. Salah satu forum yang dimaksud adalah Forum Indonesia-Afrika (IAF) yang ke-2, yang akan diadakan di Nusa Dua, Bali pada tanggal 1-3 September 2024. Dalam forum tersebut, direncanakan akan ada sesi khusus mengenai percepatan pertumbuhan ekonomi biru dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, yang terintegrasi dalam agenda SDGs. Keberlanjutan ekosistem terumbu karang, kata Marthen, menjadi bagian dari sasaran ke-14 dalam SDGs, yang berfokus pada kehidupan bawah laut. Upaya tersebut menunjukkan komitmen untuk menjaga kelestarian sumber daya laut yang sangat penting bagi kehidupan dan ekonomi masyarakat. ANTARA