JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui *plan of development* (POD) untuk pengembangan lapangan Geng North dan lapangan Gehem. Total nilai investasi proyek ini mencapai sekitar Rp280 triliun. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi D. Suryodipuro, menyatakan bahwa persetujuan POD untuk proyek tersebut berlangsung dalam waktu yang relatif cepat. Sejak penemuan besar *giant discovery* Geng North pada bulan Oktober 2023, baru sepuluh bulan kemudian POD proyek ini disetujui. Ini menunjukkan upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas serta melaksanakan strategi yang bertujuan mengkonversi sumber daya yang ada menjadi produksi yang bernilai. Persetujuan ini dijelaskan dalam Surat Menteri ESDM Nomor: T-351/MG.04/MEM.M/2024, yang merupakan tanggapan terhadap surat Kepala SKK Migas. Surat tersebut berisi rekomendasi untuk pengembangan Proyek North Hub Development di Selat Makassar yang mencakup Wilayah Kerja North Ganal, Wilayah Kerja Ganal, dan Wilayah Kerja Rapak. Dalam rinciannya, rencana pengembangan yang mendapatkan persetujuan melibatkan Lapangan Geng North yang terletak di Wilayah Kerja North Ganal. Sementara itu, untuk Lapangan Gehem, terdapat dua wilayah kerja yang juga telah disetujui untuk rencana pengembangannya, yaitu Wilayah Kerja Ganal dan Wilayah Kerja Rapak. Hudi juga menjelaskan bahwa dengan adanya persetujuan POD tersebut, akan ada investasi yang signifikan yang akan masuk ke Indonesia. Estimasi biaya investasi, tidak termasuk *sunk cost*, diperkirakan mencapai 11,847 miliar dolar AS, disertai dengan biaya operasi sekitar 5,643 miliar dolar AS, mencakup pajak dan biaya lainnya. Dengan demikian, total investasi yang diharapkan datang ke Indonesia mencapai 17,49 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp280 triliun. Total *sunk cost* untuk Wilayah Kerja North Ganal dan Wilayah Kerja Rapak ditentukan sebesar 859 juta dolar AS. Hudi menyatakan bahwa nilai investasi sebesar Rp280 triliun sangat besar, bahkan 2,5 kali lipat dari investasi proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang nilainya sekitar Rp112 triliun. Hudi juga memberikan gambaran mengenai potensi pendapatan yang dihasilkan dari proyek ini. Diharapkan, total pendapatan kotor akan mencapai sekitar 39,457 miliar dolar AS, setara dengan Rp631 triliun. Dari total pendapatan tersebut, alokasi untuk pemerintah diperkirakan sebesar 12,993 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp208 triliun, mencakup sekitar 31,5 persen dari pendapatan kotor. Sementara itu, bagian kontraktor diperkirakan akan mendapatkan 8,128 miliar dolar AS, atau sekitar 19,7 persen dari total pendapatan. Biaya *cost recovery* juga diprediksi mencapai 18,336 miliar dolar AS atau sekitar 44,4 persen dari pendapatan kotor. Hudi menambahkan bahwa sesuai dengan ketentuan dalam POD, penerimaan negara minimal diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp208 triliun. SKK Migas berkomitmen untuk melakukan pengawasan dan kontrol secara maksimal agar proses *cost recovery* bisa lebih dioptimalkan, sehingga penerimaan negara yang diperoleh bisa lebih besar lagi. ANTARA