PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) bersama dengan Pusat Penelitian Agroforestri Dunia (*International Council for Research in Agroforestry*, ICRAF) berkomitmen untuk memperluas penerapan pendidikan muatan lokal yang fokus pada ekosistem gambut dan mangrove di seluruh sekolah yang ada di kabupaten dan kota dalam wilayah provinsi ini. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalbar, Adiyani, di Pontianak mengemukakan bahwa inisiatif ini merupakan langkah kolaborasi antara pemerintah dan mitra pembangunan dengan tujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem gambut dan mangrove. Menurutnya, implementasi kurikulum muatan lokal tersebut akan dilakukan secara menyeluruh di berbagai unit pendidikan yang ada di Kalbar, dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Adiyani menekankan bahwa prioritas penerapan kurikulum mengenai mangrove akan difokuskan pada daerah pesisir. Hal ini bertujuan untuk memberi pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat, khususnya kepada siswa-siswi mengenai pentingnya melestarikan gambut dan mangrove. Ia menyebutkan bahwa total luas area gambut di Kalbar mencapai 2,8 juta hektare, sehingga penanganannya memerlukan upaya yang lebih maksimal. Edukasi mengenai keberadaan serta pemanfaatan gambut dan mangrove perlu mulai diberikan sejak dini kepada generasi muda. Hal ini dapat dilakukan melalui integrasi materi mengenai lingkungan gambut dan mangrove ke dalam kurikulum pelajaran di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pengembangan kurikulum pendidikan muatan lokal yang berfokus pada lingkungan gambut dan mangrove telah dimulai di Kabupaten Kubu Raya dan telah dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. Langkah-langkah tersebut mencakup peningkatan kapasitas bagi para pemangku kepentingan terkait peran dan fungsi ekosistem, pembentukan tim pengembang kurikulum, serta penyusunan kurikulum yang akan diterapkan pada 15 sekolah yang dijadikan sebagai lokasi uji coba. Adiyani menjelaskan bahwa untuk memastikan keberhasilan program ini, penting bagi semua pihak untuk menetapkan dan menyosialisasikan kurikulum muatan lokal mengenai gambut dan mangrove kepada sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP di Kabupaten Kubu Raya. Hal ini diharapkan dapat mendorong integrasi pembelajaran muatan lokal di institusi pendidikan. Dalam kesempatan yang sama, Mike Elizabeth Lorenza, perwakilan Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, menyatakan bahwa pengurangan emisi harus menjadi tanggung jawab semua negara dan pihak untuk memaksimalkan efektivitas program ini. Ia menceritakan bahwa ia telah mengunjungi program ICRAF di Sumatera Selatan yang menunjukkan hasil positif. Saat ini, kunjungannya ke Kabupaten Kubu Raya bertujuan untuk mengamati progres program kurikulum gambut yang tengah dijalankan. Mike berharap agar semua pihak dapat mempertahankan program peremajaan gambut serta menjaga ekosistem yang ada, sehingga ketersediaan karbon bagi dunia tetap terjaga. Dengan upaya kolaboratif ini, diharapkan pengelolaan sumber daya alam di Kalbar dapat dilakukan dengan lebih baik dan berkelanjutan. ANTARA