**Borneonews - Gaza** Rumah Sakit Kompleks Medis Nasser yang terletak di Khan Younis, wilayah selatan Jalur Gaza, mengungkapkan bahwa mereka kini terpaksa memprioritaskan perawatan bagi perempuan dan anak-anak. Hal ini disebabkan oleh krisis pasokan medis yang parah, yang diakibatkan oleh konflik dan blokade yang diberlakukan oleh Israel.
Juru bicara rumah sakit, Muhammad Saqr, menyatakan dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis, bahwa tim medis saat ini harus fokus pada penyelamatan nyawa anak-anak dan perempuan. Ini dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga keberlangsungan dan kelestarian garis keturunan rakyat Palestina di Gaza.
Saqr juga meminta kepada masyarakat internasional untuk memberikan tekanan pada kekuatan pendudukan Israel agar mau mengizinkan masuknya kebutuhan medis yang sangat diperlukan oleh masyarakat di Gaza. Dalam informasi yang lebih lanjut, Kementerian Kesehatan Gaza juga melaporkan bahwa pasokan obat-obatan penting dan peralatan medis lainnya telah habis. Ini terjadi di tengah penutupan perbatasan Rafah dan Kerem Shalom yang terus berlanjut oleh Israel.
Saat ini, jumlah pasokan medis dan bantuan kemanusiaan yang berhasil masuk ke Gaza dari Israel sangat terbatas dan belum memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Situasi tersebut semakin diperparah oleh kondisi kemanusiaan yang semakin memburuk, termasuk masalah kesehatan yang meluas di wilayah tersebut.
Serangan brutal dari Israel di Jalur Gaza terus berlanjut setelah kelompok Hamas melancarkan serangan pada 7 Oktober yang lalu. Meskipun telah ada resolusi dari Dewan Keamanan PBB yang menyerukan agar gencatan senjata segera dilaksanakan, tindakan kekerasan tersebut tetap berlanjut.
Akibat dari serangan tersebut, lebih dari 40.200 warga Palestina dilaporkan tewas, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, hampir 93.000 orang terluka, menurut data yang disampaikan oleh otoritas kesehatan setempat.
Kondisi di Gaza semakin memburuk akibat blokade yang berkepanjangan, yang telah mengakibatkan kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Banyak area di wilayah ini mengalami kerusakan parah akibat dari terus-menerusnya konflik.
Israel juga menghadapi tuduhan terkait genosida di hadapan Mahkamah Internasional. Mahkamah tersebut telah meminta agar operasi militer dihentikan, terutama di kota Rafah, di mana lebih dari satu juta warga Palestina telah mencari tempat perlindungan sebelum serangan besar-besaran yang terjadi pada 6 Mei.
ANTARA
Krisis Kemanusiaan di Gaza, Rumah Sakit Prioritaskan Perempuan dan Anak-anak
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Komentar (0)
Memuat komentar…







