BENGKULU –
**Borneonews - Kota Bengkulu**, Provinsi Bengkulu, yang dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara yang signifikan, kini menghadapi tantangan dalam mempertahankan perekonomiannya karena penurunan harga *coal* dalam beberapa waktu terakhir. Oleh karena itu, penting bagi daerah ini untuk memikirkan langkah diversifikasi ekonomi, dengan mengembangkan komoditas lain yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Bengkulu memiliki berbagai potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan, seperti kelapa dan kelapa sawit, yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti batu bara yang selama ini menjadi andalan ekspor provinsi ini. Mengembangkan potensi tersebut sejalan dengan penekanan Presiden Joko Widodo mengenai pentingnya pertumbuhan ekonomi hijau melalui eksplorasi lebih lanjut terhadap potensi kelapa di Indonesia. Kelapa merupakan komoditas yang memiliki potensi luar biasa, dengan luas lahan yang mencapai 3,8 juta hektare dan produksi tahunan sebesar 2,8 juta ton. Pada konferensi dan pameran kelapa internasional (Cocotech) Ke-51 yang berlangsung di Surabaya, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk-produk berbasis kelapa, termasuk cokelat, bakau, vanili, kopi, lada, dan cengkeh. Nilai ekspor kelapa Indonesia mencapai 1,55 miliar dolar AS, yang menunjukkan betapa besar kapasitas ini dan masih memiliki ruang untuk ditingkatkan melalui hilirisasi produk kelapa. Proses hilirisasi ini mencakup pengolahan kelapa menjadi produk yang memberikan nilai tambah, seperti bioenergi, *bioethanol*, dan *bioavtur*. Langkah ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomis kelapa, tetapi juga mendukung upaya menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan. Selain itu, hilirisasi juga mencakup pemanfaatan limbah kelapa untuk menghasilkan produk bernilai tinggi, seperti briket, *cocopeat*, dan *cocofiber*. Bricofi, sebagai istilah untuk produk hasil olahan ini, memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Briket terbuat dari tempurung kelapa yang dikarbonisasi dan diolah menjadi bahan bakar alternatif. Sementara itu, *cocopeat* merupakan serbuk kelapa yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam ramah lingkungan, dan *cocofiber* adalah serabut kelapa yang dapat digunakan dalam berbagai produk, termasuk matras dan tekstil. Pengelolaan yang baik dari komoditas kelapa oleh pelaku usaha di Indonesia dapat memanfaatkan potensi besar yang terkandung dalam sektor ini. **Harga Batu Bara Yang Merosot** Laporan terbaru dari Bank Dunia menunjukkan potensi penurunan harga batu bara yang disebabkan oleh pasokan berlimpah di pasar global dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Proyeksi mencatat bahwa harga batu bara akan turun sekitar 28 persen pada tahun 2024 dan 12 persen pada tahun 2025. Ini berpotensi memberikan dampak negatif bagi perekonomian daerah yang sangat bergantung pada komoditas ini, seperti Bengkulu. Berdasarkan proyeksi, permintaan batu bara dari China, sebagai konsumen terbesar dunia, mencapai puncaknya pada tahun 2023. Namun, setelah itu, tren permintaan diperkirakan akan menurun. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia juga telah menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk Juli 2024 sebesar USD 130,44 per ton, menandakan penurunan signifikan dari HBA yang tercatat pada Juli 2023 yang mencapai USD 191,60 per ton. Penurunan harga ini menegaskan kebutuhan mendesak untuk mengalihkan fokus pengembangan ekonomi di Bengkulu kepada komoditas alternatif, termasuk bioenergi serta produk turunan dari kelapa dan kelapa sawit. Keberlanjutan ekonomi yang ditawarkan oleh komoditas ini jauh lebih baik dibandingkan dengan batu bara, yang merupakan sumber daya tak terbarukan. Statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menunjukkan bahwa luas area tanam kelapa sawit mencapai 319.696 hektare dengan produksi 1.053.614 ton per tahun. Luas area tanam kelapa pun tercatat seluas 8.815 hektare dengan produksi 7.574 ton per tahun. Pada semester pertama tahun 2024, hampir semua ekspor Bengkulu berasal dari batu bara, di mana angka ini berkisar di atas 90 persen pada setiap bulannya kecuali Mei. Untuk mengatasi ketergantungan pada batu bara, pengembangan komoditas seperti kelapa dan kelapa sawit perlu didorong. Khususnya, program seperti Bricofi yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jawa Tengah dapat menjadi contoh bagi Bengkulu. Program ini berhasil memanfaatkan limbah kelapa untuk menghasilkan produk bernilai tinggi. Pengembangan kelapa sawit juga dapat diarahkan pada produksi bioenergi, dan Pemerintah sudah memulai implementasi biodiesel B35 serta pengujian biodiesel B40 dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. **Sumber Bioenergi yang Melimpah** Para ahli, termasuk Tatang Hernas Soerawidjaja, mengemukakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menggunakan sumber energi nabati sebagai bahan bakar alternatif. Namun, tantangan yang dihadapi adalah rendahnya inovasi di sektor industri lokal. Transisi menuju energi berbasis bioekonomi sangat penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dan potensi ini harus dimanfaatkan. Memanfaatkan sumber daya alam secara efisien dan berkelanjutan numpuk penting untuk memaksimalkan potensi Indonesia yang kaya akan minyak dan lemak. Pakar juga menyoroti bahwa potensi batang sawit tua, setelah dilakukan peremajaan, tetap tinggi, dengan kandungan nira dan pati yang signifikan. Dari hasil peremajaan kebun sawit, potensi penghasilannya dalam bentuk bioetanol dapat mencapai 8,7 hingga 10,3 kiloliter per hektare. Jika separuh dari potensi ini direalisasikan, maka bisa dihasilkan sekitar 2,8 juta kiloliter bioetanol per tahunnya, yang setara dengan kebutuhan untuk mendukung program E5 yang direncanakan hingga 2030. **Perlu Komitmen dalam Hilirisasi** Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menekankan pentingnya hilirisasi produk kelapa untuk meningkatkan nilai ekonomi. Setiap bagian dari pohon kelapa memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang berharga, termasuk bioenergi dan *bioavtur*. Indonesia harus menghentikan kebiasaan mengekspor kelapa mentah dan bertransformasi ke arah pengolahan yang lebih kreasi. Di samping itu, potensi komoditas kelapa harus dimanfaatkan secara maksimal. Indonesia, sebagai produsen kelapa terbesar kedua di dunia, harus mampu mengembangkan produk turunan kelapa, seperti minyak kelapa, santan, kelapa parut, dan air kelapa. Kini, ada berbagai produk berkualitas tinggi yang telah diekspor, termasuk *nata de coco*, briket arang, dan tempurung kelapa. Dengan penurunan harga batu bara yang terus berlanjut, serta potensi besar dari komoditas kelapa dan kelapa sawit, Bengkulu memiliki peluang untuk memperkuat perekonomiannya melalui upaya diversifikasi yang tepat. Pemanfaatan bioenergi dalam strategi hilirisasi tidak hanya bermanfaat untuk ekonomi lokal, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian target energi terbarukan Indonesia dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. ANTARA