JAKARTA –
**Borneonews - Davao**, Kegiatan pemeliharaan kecintaan terhadap Indonesia di kawasan selatan Filipina baru-baru ini berlangsung di Sekolah Indonesia Davao (SID). Dalam suasana kelas yang penuh perhatian, anak-anak terlihat sangat fokus mendengarkan instruksi dari pengajar. Ibu Ciwuk Musiana Yudhawasthi, yang menjadi instruktur pada kesempatan itu, berdiri di depan kelas, sementara anak-anak dari berbagai jenjang pendidikan dasar dan menengah duduk mengikuti arahan. Sebuah keributan kecil terjadi ketika Ibu Ciwuk memberikan isyarat yang mengharuskan anak-anak untuk mengangkat atau menurunkan tangan mereka. Ternyata, instruksi yang diberikan sengaja dibuat tidak sinkron dengan gerakan tangan yang seharusnya mereka lakukan, sehingga menciptakan momen lucu saat para siswa salah dalam melaksanakan perintah tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari *Collaborative Storytelling* yang diselenggarakan oleh dua dosen dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Dr. Ciwuk Musiana Yudhawasthi, M.Hum., dan Dr. Erwin Syahruddin, SH., MH. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program Indonesiaisasi bagi anak-anak Indonesia yang tinggal di Filipina, khususnya di wilayah Mindanao. Kegiatan storytelling ini dipilih sebagai strategi untuk meningkatkan pemahaman tentang sejarah Indonesia dan penguasaan bahasa Indonesia yang masih terbatas di kalangan siswa SID. SID adalah sekolah yang dikhususkan bagi anak-anak Indonesia yang lahir dan tinggal di Davao, termasuk anak-anak dari staf lokal di Konsulat Jenderal Indonesia di Davao. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Indonesia di kalangan siswa masih minim. Melalui metode bercerita, diharapkan bisa meningkatkan kemampuan literasi mereka. Ibu Ciwuk menegaskan bahwa meskipun kegiatan bercerita sering dikaitkan dengan anak-anak usia dini, tidak ada alasan bahwa anak-anak yang lebih besar tidak memerlukan dan tidak menyukai konsep ini. Cerita dapat menjadi alat yang efektif untuk memperkenalkan anak-anak pada nilai-nilai penting, ide-ide baru, serta melatih kreativitas mereka. Menurut Ibu Ciwuk, *storytelling* memiliki peranan penting dalam pengembangan bahasa dan kognitif anak-anak. Aktivitas ini tidak hanya mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa tetapi juga mendorong minat baca serta memperkaya kecerdasan emosional mereka. Dalam kegiatan ini, tiga kegiatan literasi yang dikembangkan meliputi literasi dongeng, literasi lingkungan, dan literasi museum. Penggunaan bahasa Indonesia menjadi wajib dalam interaksi selama kegiatan, namun tetap disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Ibu Ciwuk berharap bahwa melalui kegiatan ini, anak-anak dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang sastra Indonesia dan isu-isu lingkungan, serta mengenali berbagai warisan budaya melalui museum di Indonesia. Kegiatan storytelling ini juga melibatkan guru-guru SID untuk meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Berdasarkan penelitian yang ada, kegiatan *Collaborative Storytelling* tidak hanya menambah pengetahuan tentang budaya, tetapi juga melatih siswa dan guru dalam keterampilan artistik. Kegiatan bernyanyi dan bercerita di kelas bertujuan untuk membantu meningkatkan nilai akademis siswa. Mengingat bahwa *storytelling* adalah seni rakyat yang dapat diakses oleh semua usia dan kemampuan, maka implementasinya menjadi lebih mudah. SID didirikan pada tahun 1968 dan memulai proses pembelajaran pada bulan Juni 1968 di St. Mangga, Juna Subdivision, Matina, Davao City. Siswa SID adalah anak-anak dari staf rumah tangga Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Davao City. Pada tanggal 17 Agustus 1968, sekolah ini diresmikan oleh Konsul Wardoyo sebagai cabang dari Sekolah Indonesia Manila. Kemudian, pada tanggal 12 Februari 1982, Pemerintah Indonesia membangun gedung Konsulat Jenderal Indonesia di Ecoland Subdivision, yang juga mencakup SID. Pada tahun ajaran baru 1971, SID mulai menerima siswa dari komunitas Indonesia yang tinggal di luar Davao City sebagai bagian dari upaya perlindungan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang bermukim jauh dari pusat kota. Salah satu tujuan utama SID adalah melahirkan lulusan yang proaktif, memiliki semangat nasionalisme yang tinggi, dan bangga terhadap sekolah mereka, agar dapat menjadi generasi yang kuat di masa depan. Saat ini, SID memiliki jenjang pendidikan dasar, menengah, dan atas. Salah satu tantangan utama yang dihadapi SID adalah kurangnya partisipasi orang tua. Peran orang tua sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama dalam hal pembelajaran bahasa. Namun, hal ini dipahami mengingat bahwa mereka yang berasal dari keturunan Indonesia sering kali tinggal di daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau dan umumnya berada di bawah garis kemiskinan. Anak-anak SID yang dibesarkan di Filipina cenderung menyerap budaya Filipina, yang menjadi hambatan dalam upaya re-Indonesiaisasi, terlebih lagi dengan keberadaan guru yang mengajar di berbagai mata pelajaran dan tingkat pendidikan. Menurut data yang dikeluarkan UNHCR pada tahun 2019, terdapat 8.745 orang keturunan Indonesia di Filipina, dengan 2.842 di antaranya yang telah terdaftar sebagai warga negara Indonesia. Ibu Ciwuk menyatakan bahwa dengan situasi ini, SID perlu membuka diri untuk menerima siswa di luar warga negara Indonesia agar keberadaan sekolah ini tetap terjaga. Dari pantauan yang dilakukan Ibu Ciwuk selama program, per jumlah siswa SID per Februari 2024 adalah sebagai berikut: di tingkat Sekolah Dasar (SD) terdapat 15 anak, terdiri dari 12 laki-laki dan 5 perempuan; di Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdapat 29 anak yang terdiri dari 11 laki-laki dan 18 perempuan; serta di Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat 41 anak, dengan 21 laki-laki dan 20 perempuan. Keunikan SID adalah keberadaan asrama khusus bagi anak-anak Indonesia yang orang tuanya tinggal jauh dari Davao City dan berada dalam keadaan ekonomi yang kurang beruntung. Mereka mendapatkan kebutuhan sehari-hari tanpa biaya. ANTARA