JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) semakin gencar melakukan edukasi mengenai pencegahan batuk rejan, yang juga dikenal sebagai pertusis, terutama pada bayi dan anak-anak saat memasuki musim pancaroba. Dalam sebuah kegiatan *Media Briefing* yang berlangsung secara daring, Ketua Pengurus Pusat IDAI, yang juga seorang dokter spesialis anak konsultan, Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa batuk rejan sering disebut sebagai penyakit yang menyebabkan batuk berkepanjangan, bahkan hingga seratus hari. Kondisi ini bisa membuat anak kesulitan bernafas dan mengeluarkan suara saat batuk. Piprim menambahkan, "Anak-anak yang menderita batuk rejan dapat mengalami penderitaan yang luar biasa. Proses batuk yang parah bahkan dapat mengakibatkan pecah pembuluh darah di mata mereka. Kita bisa bayangkan betapa menyedihkannya melihat anak mengalami batuk hingga matanya berdarah." Batuk rejan termasuk dalam kategori penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi ini berupa vaksin DPT yang diberikan secara gratis di posyandu dan puskesmas. Vaksinasi dilakukan dalam tiga kali pengaturan dan merupakan langkah pencegahan yang sangat penting. Piprim juga menekankan bahwa PD3I bukanlah kondisi yang mudah untuk diobati, terutama untuk anak-anak, sehingga pencegahan melalui imunisasi harus dilakukan sejak awal. "Oleh karena itu, kami memohon kepada rekan-rekan media untuk meningkatkan edukasi mengenai pentingnya imunisasi ini. Biaya untuk pencegahan sangat terjangkau dan vaksin sudah tersedia di pusat kesehatan masyarakat sebagai bagian dari program imunisasi rutin," ujarnya. Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa selain melakukan imunisasi DPT, pencegahan batuk rejan juga dapat didukung dengan pola makan yang bergizi dan bernutrisi serta gaya hidup sehat, termasuk rutin berolahraga. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh individu untuk melawan berbagai jenis penyakit. ANTARA