JAKARTA –
**Borneonews - Hamilton**, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kembali menekankan perlunya penghentian tindakan kekerasan yang terus berlangsung di Myanmar. Seruan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan tujuh tahun pengungsian masyarakat Rohingya serta kelompok etnis lainnya dari Negara Bagian Rakhine. Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar satu juta warga Rohingya terpaksa berlindung di Bangladesh. Selain itu, lebih dari 130.000 orang lainnya terpaksa mengungsi ke berbagai wilayah lain tanpa ada kejelasan mengenai kemungkinan untuk kembali ke tanah air mereka. Dujarric juga menyoroti situasi keamanan dan kemanusiaan yang sangat memprihatinkan yang sedang dialami oleh masyarakat di Myanmar, terutama di Rakhine. Dia menyebutkan bahwa meningkatnya konflik bersenjata di kawasan tersebut semakin memperburuk keadaan, menambah kerentanan yang dihadapi oleh warga Rohingya serta komunitas lainnya. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik di Myanmar untuk segera menghentikan kekerasan. Guterres juga menegaskan pentingnya perlindungan bagi warga sipil sesuai dengan standar hak asasi manusia internasional yang berlaku serta hukum kemanusiaan internasional. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal PBB juga mengulangi seruannya untuk memperkuat upaya perlindungan di tingkat regional dan untuk terus mendukung negara-negara yang menampung pengungsi. Dukungan tersebut termasuk dalam kerangka Rencana Tanggapan Bersama 2024 untuk Krisis Kemanusiaan Rohingya di Bangladesh. Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, Julie Bishop, telah berupaya melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk aktor-aktor regional, guna mendorong tercapainya proses yang inklusif dan dipimpin oleh Myanmar. Proses tersebut dianggap penting untuk mencapai perdamaian berkelanjutan dan rekonsiliasi nasional, yang pada gilirannya dapat menciptakan kondisi yang mendukung pemulangan pengungsi Rohingya secara sukarela, aman, dan bermartabat ke Myanmar. Perlu dicatat bahwa eksodus massal warga Rohingya dimulai pada 25 Agustus 2017, ketika militer Myanmar melaksanakan operasi mematikan terhadap komunitas Muslim minoritas di wilayah utara negara tersebut. Sejak itu, sekitar 1,2 juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dan tinggal di kamp-kamp pengungsi di Cox's Bazar. ANTARA