JAKARTA –
**Borneonews - Bali**, Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi antara sistem BI-FAST dan infrastruktur industri *fast payment* yang ada. Hal ini disampaikan oleh Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Ryan Rizaldy, dalam sebuah pelatihan untuk wartawan yang diadakan di Bali. Menurut Ryan, agar kedua sistem ini dapat berfungsi secara harmonis, penting untuk memastikan bahwa skema operasional serta prosedur yang digunakan harus selaras. Ia menegaskan bahwa jika skema yang diterapkan tidak konsisten, kolaborasi yang diharapkan tidak akan terwujud dengan baik. Lebih lanjut, Ryan menjelaskan bahwa BI-FAST dan industri *fast payment* harus bergerak dalam kerangka yang terstandarisasi. Ini mencakup aspek teknis, bisnis, serta tata kelola yang jelas agar sinerginya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Ryan juga menambahkan bahwa untuk memastikan layanan yang dihadirkan setara, BI-FAST dan industri perlu memiliki tingkat layanan yang seimbang. Ini sangat penting agar kedua belah pihak dapat saling mendukung, terutama ketika salah satu sistem menghadapi masalah teknis. "Kita perlu memiliki mekanisme *active back-up* satu sama lain. Apabila salah satu sistem mengalami kegagalan, sistem lainnya bisa langsung mengambil alih," ungkapnya. Lebih jauh lagi, untuk transaksi yang dilakukan melalui jalur industri *fast payment*, BI berencana untuk mengarahkan setelmen pada penggunaan uang yang dikeluarkan oleh bank sentral. Dengan langkah ini, pihak industri diharapkan dapat menguatkan aransemen yang ada agar terjalin sinergi yang lebih kuat. Langkah penyelenggaraan kolaboratif antara Bank Indonesia dan sektor industri ini ditujukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan transaksi keuangan yang mungkin terjadi di masa mendatang, sebagaimana diatur dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. Ryan juga menekankan bahwa BI-FAST tidak dapat beroperasi sendiri dalam menghadapi lonjakan volume transaksi di masa yang akan datang. Penyandaran pada satu infrastruktur tunggal dapat membuka risiko besar, terutama berhubungan dengan potensi kegagalan satu titik. Oleh karena itu, sinergi antara BI-FAST dan sistem industri *fast payment* sangat diperlukan untuk berbagi tanggung jawab dalam memberikan layanan dan saling mendukung. Dari sisi statistik, transaksi menggunakan BI-RTGS menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 15,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total mencapai Rp15.450 triliun. Sementara itu, untuk transaksi ritel, volume transaksi BI-FAST tumbuh pesat, mencatatkan angka 301,41 juta transaksi, yang mencerminkan kenaikan sebesar 65,08 persen saat Juli 2024. Dalam perkiraan jangka panjang, Bank Indonesia memproyeksikan bahwa jumlah transaksi keuangan digital akan mengalami pertumbuhan eksponensial, mencapai 10,05 miliar transaksi pada tahun 2030, atau meningkat hingga 14 kali lipat dari kondisi saat ini. ANTARA