**Borneonews - Jakarta**, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Pahala Nugraha Mansury menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan salah satu ancaman yang paling serius bagi keberadaan manusia. Menurutnya, isu ini bukan sekadar cerita yang pernah kita lihat dalam film atau dokumenter, tetapi merupakan kenyataan yang sangat mendesak dan memerlukan perhatian kita semua.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pahala dalam acara pembukaan Indonesia *Net-Zero Summit* (INZS) 2024 bertema S.O.S Neraka Bocor: *Climate Avengers Assemble!*, yang berlangsung di Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia mencatat kejadian nyata yang menggambarkan dampak dari perubahan iklim, seperti Pulau Nyangai di Sierra Leone. Dulu, pulau ini dihuni oleh sekitar 500 kepala keluarga, tetapi kini pulau tersebut telah menghilang dari peta.
Lebih lanjut, Pahala menjelaskan bahwa area yang sebelumnya memiliki luas sekitar 2.300 kaki sekarang hanya tersisa sebagai hamparan pasir yang tidak terpakai dengan panjang sekitar 300 kaki. Hal ini memberikan gambaran betapa seriusnya masalah yang dihadapi akibat perubahan iklim.
Wakil Menteri juga menekankan peran strategis Indonesia dalam upaya global untuk memerangi perubahan iklim. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya, Indonesia memiliki potensi besar dalam hal penyimpanan dan penyerapan karbon. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia bisa menyerap antara 400 hingga 600 gigaton karbon di dalam reservoir yang terdegradasi dan akuifer salin.
Dalam hal transisi energi, ia berharap Indonesia dapat mendukung upaya global dengan memproduksi dan mengolah mineral-mineral penting sesuai dengan standar keberlanjutan yang lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan pentingnya mematuhi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di seluruh sektor.
Pahala juga menjelaskan bahwa untuk memperkuat pengembangan energi terbarukan, masalah pembiayaan perlu menjadi perhatian utama. Ia menekankan bahwa tidak hanya pemerintah yang harus terlibat, tetapi juga sektor swasta, lembaga perbankan, bank pembangunan multilateral, dan lembaga filantropi harus turut serta dalam memberikan dukungan finansial.
Dalam hal mitigasi dampak perubahan iklim, Indonesia telah menjalankan berbagai program iklim, termasuk restorasi dan rehabilitasi mangrove. Pahala mengungkapkan bahwa mangrove merupakan salah satu aset nasional yang sangat berharga, mencakup sekitar 23 persen dari total mangrove di dunia dan memiliki lebih dari 90 jenis spesies.
Terakhir, Pahala mengingatkan akan pentingnya menolak kebijakan diskriminatif antar negara dalam mencapai target-target terkait perubahan iklim. Ia menyatakan dengan tegas bahwa semua pihak perlu melawan kebijakan yang tidak adil ini agar kolaborasi dalam mengatasi perubahan iklim dapat terwujud secara efektif.
ANTARA
Perubahan Iklim, Ancaman Serius dan Tanggung Jawab Bersama Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Janice Tjen dan Storm Hunter Juara Ganda Putri Japan Open 2026
Pekab Gumas Bagikan Bantuan Bibit Cabai hingga Tomat untuk Masyarakat
Dua Gol Nicolas Jackson bawa Aston Villa Tekuk Man City 2-1
Ikut Manugal, Wakil Bupati Gumas Ajak Masyarakat Manfaatkan Lahan
Dortmund Puncaki Klasemen setelah Kalahkan Frankfurt 1-0
DKUKMPP Kotim Ajak Masyarakat Dukung Pasar Rakyat, Belanja Lokal Gerakkan Ekonomi Daerah
Komentar (0)
Memuat komentar…







