**Borneonews - Jakarta**, Kualitas udara di Jakarta pada Senin pagi tercatat sebagai salah satu yang terburuk di dunia, berada pada kategori tidak sehat. Data dari situs pemantau kualitas udara IQAir menunjukkan bahwa pada pukul 05.20 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 177, yang menandakan kondisi udara yang merugikan kesehatan.
Indeks tersebut mengindikasikan bahwa kualitas udara tidak sehat, terutama bagi kelompok yang sensitif, termasuk manusia dan hewan. Polusi yang dominan adalah partikel *PM2.5*, dengan konsentrasi mencapai 92 mikrogram per meter kubik, yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan dampak kualitas udara ini terhadap kesehatan masyarakat.
Sebagai perbandingan, kualitas udara dapat dikategorikan berdasarkan nilai *PM2.5*. Kategori baik, yang menunjukkan kondisi yang aman, memiliki rentang 0-50 mikrogram per meter kubik, di mana tidak ada efek yang terlihat pada kesehatan manusia, hewan, atau tanaman. Kategori sedang, dengan rentang 51-100, menunjukkan potensi dampak pada tumbuhan sensitif dan keindahan estetika. Sementara itu, kategori sangat tidak sehat, dengan *PM2.5* antara 200-299, dapat berbahaya bagi beberapa segmen populasi. Terakhir, kategori berbahaya, dengan nilai 300-500, menunjukkan kualitas udara yang dapat menimbulkan risiko kesehatan serius.
Dalam laporan tersebut, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Kinshasa, Kongo-Kinshasa, yang memiliki indeks 184. Diikuti oleh Kuwait City, Kuwait di rangking ketiga dengan angka 164, Kampala, Uganda di posisi keempat dengan 151, dan Busan, Korea Selatan di posisi kelima dengan 124. Kota-kota lainnya dalam daftar termasuk Cairo, Mesir dan Lahore, Pakistan masing-masing dengan nilai 119, serta Manama, Bahrain dengan 115, Accra, Ghana dengan 107, dan Tashkent, Uzbekistan di angka 92.
Menanggapi masalah pencemaran udara yang semakin mengkhawatirkan, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan upaya pemantauan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan bahwa jumlah stasiun pemantau kualitas udara akan diperbanyak. Saat ini, terdapat 56 stasiun pemantau yang tersebar di daerah-daerah rawan kebakaran hutan, ibukota provinsi, serta beberapa kabupaten dan kota.
Sigit Reliantoro, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, menjelaskan dalam sebuah konferensi pers bahwa tahun ini akan ditambahkan sekitar 60 stasiun pemantauan baru, sehingga totalnya akan mencapai sekitar 120. Penambahan ini juga mencakup lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak terpantau dengan baik di jalur Pantura.
Upaya pemantauan akan terus dilakukan di berbagai wilayah yang memiliki potensi pencemaran, terutama di daerah Jabodetabek yang selama beberapa tahun terakhir telah menjadi fokus perhatian terkait kualitas udaranya.
ANTARA
Kualitas Udara Jakarta Tak Sehat, Jadi Urutan Kedua Terburuk Dunia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Komentar (0)
Memuat komentar…







