**Borneonews - Jakarta**, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemerintah sedang melakukan pengembangan laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas) dengan tujuan untuk mendeteksi penyakit lebih awal. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan deteksi terhadap berbagai penyakit, baik yang menular maupun tidak menular.
Penting bagi pemerintah untuk membangun fasilitas kesehatan yang dapat melakukan *surveillance* penyakit menular dan skrining untuk penyakit tidak menular. Melalui pembangunan berbagai laboratorium, pemerintah berfokus untuk mendeteksi kemungkinan penyakit dan faktor risiko yang menyertainya, seperti kondisi lingkungan, jenis makanan, serta vektor penyakit.
Sebanyak 300 ribu pos pelayanan terpadu (posyandu) direncanakan akan dilengkapi dengan alat pemeriksaan laboratorium. Alat-alat ini dirancang untuk mendeteksi glukosa, kolesterol, asam urat, serta tekanan darah, melalui metode *Point of Care Testing* (POCT). Selain itu, setiap posyandu juga akan dilengkapi dengan alat *rapid test* untuk meningkatkan efisiensi pemeriksaan.
Sementara itu, sebanyak 10.000 puskesmas bakal menerima peralatan laboratorium yang lebih canggih dibandingkan dengan POCT. Untuk mendeteksi penyakit tidak menular, akan disediakan perangkat seperti *blood chemical analyzer* dan *hemato analyzer*, yang berfungsi untuk mengukur sampel darah.
Dalam upaya mendukung skrining atau deteksi dini penyakit pada ibu, puskesmas juga akan mendapatkan perangkat ultrasonografi (USG) untuk mempermudah proses pemantauan kesehatan. Ditambah lagi, alat elektrokardiografi (EKG) direncanakan akan tersedia untuk pemeriksaan jantung. Saat ini, pemerintah telah memperoleh 50 unit *mobile x-ray* dan berencana untuk memperluas penggunaan alat tersebut. Puskesmas yang menangani penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) juga akan dilengkapi dengan alat tes cepat molekuler (TCM).
Menteri Kesehatan berharap bahwa pengembangan labkesmas secara luas ini akan memfasilitasi lebih banyak puskesmas dalam melakukan deteksi dini, baik untuk penyakit menular maupun tidak menular. Seluruh data yang dihasilkan melalui labkesmas akan terintegrasi dalam sistem Satu Sehat, yang memberikan akses tidak hanya kepada dokter dan spesialis, tetapi juga kepada peneliti dengan otoritas tertentu.
Dengan demikian, para peneliti di lingkungan akademis dapat memiliki akses terhadap data yang berbasis di Indonesia, yang diharapkan dapat menjadi basis data terbesar untuk patogen dan penyakit tidak menular. Hingga bulan Juli 2024, Kementerian Kesehatan telah melakukan skrining terhadap 60 juta orang, yang mencakup pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. Semua data ini sudah didigitalisasi berdasarkan nama dan alamat individu.
Menteri Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa data-data tersebut akan menjadi sumber informasi yang besar, membantu dalam pengambilan kebijakan yang tepat dan analisis, dengan harapan dapat berkontribusi dalam perbaikan layanan kesehatan di Indonesia. Ia juga menegaskan pentingnya memastikan bahwa seluruh laboratorium memiliki kapasitas yang memadai untuk melayani masyarakat secara optimal.
ANTARA
Pemerintah Kembangkan Labkesmas untuk Deteksi Penyakit Dini
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Jet Tempur AS Cegat Pesawat umum Dekat Kediaman Trump di Florida
Peneliti Jepang Temukan Tutup Botol Bawa Ekosistem Laut Filipina
Wembanyama Bawa Spurs Kalahkan Mavericks 122-106
Imam Besar: Serangan Berulang ke Mekkah Bongkar Niat Kriminal Houthi
Kemenpar-BPOLBF Gandeng Agen Wisata Tiongkok Perluas Pasar Labuan Bajo
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Komentar (0)
Memuat komentar…







