JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Pascasarjana Universitas Pertahanan (Unhan) Laksda TNI Bambang Irwanto percaya bahwa Indonesia mampu mengatasi lima tantangan penting dalam usaha untuk meningkatkan kekuatan kapal selam domestik. Tantangan pertama terletak pada aspek kebutuhan anggaran. Menurut Bambang, untuk pengadaan kapal selam yang efektif, anggaran yang memadai sangatlah penting. Ini mencakup notasi anggaran untuk pengadaan, pengembangan teknologi, dan pemeliharaan kapal selam itu sendiri. Selanjutnya, tantangan kedua berhubungan dengan sumber daya manusia (SDM). Bambang menekankan bahwa personel yang bertugas di kapal selam harus memiliki keahlian teknis yang khusus. Mereka harus siap untuk bertahan dalam lingkungan yang tertutup dan menghadapi situasi yang sangat menantang. "Membutuhkan orang-orang yang siap untuk berada dalam air dalam waktu yang lama, karena mereka akan sendirian dan harus menghadapi berbagai kesulitan," ujarnya. Bambang juga menggarisbawahi pentingnya anggaran yang cukup untuk melatih personel agar mereka dapat memiliki keterampilan khusus yang dibutuhkan dalam pengoperasian kapal selam. Proses pelatihan ini adalah langkah krusial untuk memastikan kesiapan seluruh tim yang akan bertanggung jawab atas pengoperasian kapal tersebut. Tantangan ketiga berkaitan dengan kebutuhan pendukung, yang mencakup berbagai fasilitas penting untuk mendukung operasional kapal selam. Fasilitas ini meliputi penyediaan bahan bakar, pangkalan kapal yang memadai, serta pasokan listrik yang diperlukan untuk mendukung semua sistem operasi kapal. Semua ini sangat penting guna menjaga kedaulatan dan keamanan perairan Indonesia. Dua tantangan berikutnya terkait dengan penggunaan dan penelitian serta pengembangan (litbang) kapal selam. Kebutuhan litbang, menurut Bambang, erat kaitannya dengan kegiatan transfer teknologi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan kapal selam buatan dalam negeri. Bambang percaya, dengan sumber daya yang dimiliki pemerintah saat ini, Indonesia memiliki potensi untuk memperkuat kedaulatan laut melalui pengadaan kapal selam yang berkualitas. Sebagai catatan, Indonesia pernah memiliki satu skuadron kapal selam kelas Whisky sebanyak 12 unit sebelum Operasi Trikora di Irian Barat (kini Papua) pada era 1960-an. Sayangnya, era kapal selam kelas Whisky berakhir pada tahun 1990 seiring dengan dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 1980-an, TNI AL melanjutkan pengadaan kapal selam dengan membeli dua unit kapal selam U boat kelas 209, yaitu KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Kedua kapal ini diakui sangat andal dan telah beroperasi selama lebih dari 40 tahun. Lebih baru lagi, pada tahun 2020, Indonesia melakukan pengadaan kapal selam kelas Nagapasa dari Korea Selatan, yang juga dikenal sebagai kelas Changbogo. Dalam kerja sama ini, sebanyak tiga unit kapal kapal selam diperoleh, dengan satu unit dibangun di galangan PT. PAL Indonesia. Upaya ini mencerminkan komitmen untuk terus meningkatkan kekuatan alutsista maritim Tanah Air. ANTARA