JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, mengungkapkan bahwa keputusan partainya untuk melepaskan Anies Baswedan dan mendukung pasangan Ridwan Kamil-Suswono dalam Pilkada 2024 di Jakarta menjadi momen pembelajaran yang signifikan bagi NasDem. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Willy dalam acara Kongres III Partai NasDem yang berlangsung di Jakarta. Meskipun mengalami perubahan dukungan, Partai NasDem tetap berkomitmen untuk mendukung pasangan RK-Suswono, yang merupakan bagian dari koalisi besar KIM Plus untuk pilkada mendatang. Dalam diskusinya dengan media, Willy menekankan pentingnya refleksi terhadap keputusan yang diambil dan menilai bahwa situasi ini menimbulkan banyak pelajaran bagi partai tersebut. "Jika kita lihat lebih dalam, ini adalah pelajaran berharga bagi kami. Ini salah satu poin yang akan kami diskusikan dalam Kongres NasDem kali ini," ujar Willy ketika ditanya tentang kemungkinan Anies Baswedan mendapatkan dukungan dari PDI Perjuangan pada Pilkada Jakarta. Dia menambahkan, ada beberapa keputusan strategis yang diambil dalam waktu yang mendesak, sementara partainya bercita-cita untuk selalu siap dalam menghadapi setiap tantangan. Willy juga mencatat bahwa Partai NasDem dikenal sebagai partai yang memberikan rekomendasi paling awal dalam proses pencalonan. sebelumnya, NasDem bersama PKS sempat memberikan dukungan pada Anies Baswedan sebagai calon untuk Pilkada Jakarta. Namun, dukungan tersebut kemudian dicabut, dan nasibnya dialihkan kepada pasangan RK-Suswono. Meskipun keputusan itu diambil, Willy menyatakan bahwa tidak ada rasa penyesalan dalam hati para pengurus Partai NasDem. “Keputusan politik sudah diambil, dan itu dilakukan jauh sebelum adanya keputusan dari Mahkamah Konstitusi,” lanjutnya. Referensi yang disebut oleh Willy merujuk pada Putusan MK Nomor 60/PUU-XXII/2024, yang diumumkan pada 20 Agustus, yang mengubah aturan ambang batas pencalonan kepala daerah dari semula 20 persen menjadi antara 7,5 persen hingga 10 persen. Willy menyimpulkan dengan menyatakan, “Sekarang sudah terlanjur. Semua orang memahami bahwa ini adalah komitmen yang harus dihargai, meskipun setiap keputusan memiliki konsekuensi masing-masing. Kami menerima kenyataan ini, dan keputusan rekomendasi yang telah dikeluarkan tidak dapat ditarik kembali.” ANTARA