KUPANG –
**Borneonews - Kupang**, Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Jalur Gaza yang berada di Desa Sulengwaseng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, baru-baru ini berhasil menyelamatkan seekor penyu dewasa dan melepasliarkannya ke lautan. Penyu tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang warga setempat yang kemudian melaporkan penemuan itu kepada pihak Pokmaswas. Mus Melur, Ketua Pokmaswas Jalur Gaza, menyampaikan bahwa penyu ditemukan dalam kondisi terjebak di bagian akar pohon bakau di Pantai Gese Enga. Penemuan ini dilakukan oleh Mateus Mado Huler, salah satu warga Desa Bubu Atagamu. Mateus segera melaporkan kejadian tersebut kepada Pokmaswas Sulengwaseng, mengingat lokasi penemuan penyu itu hanya berjarak 200 meter dari area penangkaran penyu yang dikelola oleh kelompok tersebut. Penyu dibutuhkan usaha ekstra untuk mengangkatnya karena beratnya, sehingga proses ini melibatkan tiga orang dewasa. Setelah berhasil mengangkat penyu tersebut, Mus menyatakan bahwa mereka segera melepasliarkannya ke habitat aslinya di pantai. Ia mengungkapkan rasa syukur dan memberikan apresiasi kepada masyarakat sekitar yang telah menyadari pentingnya menjaga kelestarian penyu. Di masa lalu, masyarakat setempat masih mengkonsumsi penyu. Namun, melalui upaya edukasi yang dilakukan oleh Pokmaswas, kini para warga lebih memahami dan mendukung pelestarian penyu, sehingga tidak ada lagi praktik perburuan atau konsumsi penyu. Sebagai alternatif, apabila warga menemukan penyu dewasa atau telur di pantai, mereka segera melaporkannya kepada Pokmaswas. Penyu termasuk dalam kategori hewan yang dilindungi oleh undang-undang, dan Mus menekankan pentingnya kepedulian bersama untuk menjaga spesies ini. Dia juga mengajak lebih banyak pihak, terutama generasi muda, untuk terlibat dalam upaya pelestarian alam dengan menjaga telur-telur penyu yang ada. Pokmaswas Jalur Gaza Sulengwaseng menyambut baik setiap individu atau kelompok yang ingin belajar lebih banyak mengenai pelestarian penyu, termasuk memberi kesempatan untuk ikut serta dalam melepasliarkan tukik, yang merupakan salah satu langkah konservasi yang telah mereka lakukan sejak tahun 2018. Dengan kegiatan ini, mereka berharap dapat memberikan kontribusi lebih terhadap perlindungan penyu di wilayah tersebut. ANTARA