PALU –
**Borneonews - Palu**, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Palu-Poso, yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah, aktif berupaya untuk memperbaiki perekonomian serta kesejahteraan masyarakat di wilayah Kabupaten Poso dan Sigi. Langkah ini dilakukan melalui proyek *Forest Programme III* Sulawesi. Program yang dikoordinasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini mendapatkan dukungan dana dari Pemerintah Jerman, yang melalui Kementerian Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ). Kepala BPDASHL Palu-Poso, Encum, menjelaskan bahwa inisiatif ini telah berjalan selama tujuh tahun, dimulai dari tahun 2017 dan diproyeksikan berlanjut hingga tahun 2024. Unit Pelaksana Proyek (*Project Implementation Unit*) untuk program ini mencakup Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL), BPDASRH Palu-Poso, serta Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) di Sulawesi. Encum menyebutkan bahwa fokus utama dari program ini adalah pada kegiatan agroforestri dan rehabilitasi lahan serta hutan di daerah Poso dan Sigi. Agroforestri merupakan salah satu komponen penting dari rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Ini adalah pendekatan pengelolaan sumber daya yang memadukan usaha budidaya tanaman kehutanan atau kayu-kayuan dengan tanaman pertanian. Melalui kegiatan agroforestri dan RHL, BPDASRH berusaha untuk memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat setempat. Pengelolaan hutan yang dilakukan secara baik diyakini dapat memberikan dampak positif bagi kondisi ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Proyek ini menargetkan pengembangan agroforestri seluas 750 hektare yang mencakup 40 desa dengan minimal empat jenis tanaman asli. Hingga bulan Juni 2023, inisiatif pengembangan agroforestri telah dijalankan di 38 desa, yang melibatkan 58 kelompok tani. Lebih dari 20 jenis tanaman, termasuk kayu, *MPTS* (Multi Purpose Tree Species), dan herba, telah ditanami, dengan total luas area agroforestri mencapai 1.115 hektare. Dalam salah satu kegiatan terkait, kelompok-kelompok tani yang terlibat telah menunjukkan hasil dari program ini. Encum mengajak semua kalangan untuk berpartisipasi dalam mendukung keberlanjutan dan kesinambungan proyek ini. Salah satunya adalah dengan meningkatkan nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan, seperti durian. Gelar wicara yang diadakan juga bertujuan untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan agar mendukung keberlanjutan kegiatan program tersebut, sehingga dapat terus meningkatkan perekonomian masyarakat. Encum menambahkan bahwa *Forest Programme III* Sulawesi tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga bertujuan untuk menerapkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan dari segi sosial dan ekologi. Hal ini meliputi perbaikan ekosistem hutan serta keterlibatan aktif masyarakat setempat dalam pengelolaannya. ANTARA